Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2022

Atsar (Dampak) Ilmu

 


Oleh : Muhammad Atim

 

Di antara kekeliruan model pendidikan dan pembelajaran kita hari ini adalah mempelajari ilmu hanya sebatas untuk pengetahuan/wawasan, keterampilan akademik dan kepuasan intelektual belaka. Tak sedikit hal itu melahirkan sikap berbangga diri (ujub) dengan banyaknya pengetahuan, merasa lebih tinggi dari orang lain dan merendahkan, berambisi untuk tampil semata untuk pamer kehebatan, pada akhirnya yang dikejar adalah pujian dan penghargaan secara duniawi.

Padahal, menuntut ilmu itu semestinya selalu diperhatikan atsar/dampaknya pada diri. Apakah ada jejak rasa yang hinggap di hati? Apakah ada tambahan iman? Apakah telah memberi perubahan pada tingkah laku? Karena seperti inilah sejatinya ilmu yang bermanfaat, melahirkan tambahan iman dan amal shaleh. Tentu hal ini bukan berarti menghalangi kewajiban menyampaikan ilmu dan menegakkan hujjah. Tapi maksudnya agar itu dilakukan dengan jiwa yang telah tersibgoh dengan ilmu tersebut. Makanya jelas dalam konsep Islam, semakin bertambah ilmu semakin bertambah rasa takut kepada Allah.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّه مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama." (QS. Fathir : 28).

Inilah yang menjadi rahasia keunggulan generasi sahabat. Selain mendapatkan sentuhan langsung dari pendidikan Rasulullah saw, cara belajar mereka terhadap Al-Qur'an dan Sunnah adalah berorientasi pada dampak penguatan iman dan pengamalannya. Wahyu menjadi komando yang menggerakkan mereka. Sedangkan kita hari ini, meskipun Al-Qur'an dan Sunnah ada di hadapan kita tanpa ada perubahan, tapi cara belajar kita salah, hanya berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan akademik belaka. Setiap ayat Al-Qur'an atau hadits yang mereka terima, selalu memberi dampak pada penguatan iman dan tambahan amal shaleh, begitupun dari ilmu yang dihasilkan dari tadabur terhadap wahyu tersebut dan tafakkur terhadap alam semesta, selalu mengantarkan kepada dzikir kepada Allah. Jika tidak dengan cara seperti itu, meski banyak ayat Al-Qur'an yang dihapal dan hadits Nabi yang dikuasai, ia hanya sampai tenggorokan saja tidak tembus ke dalam hati. Makanya imam Syafi'i rahimahullah mengatakan :

ليس العلم ما حُفِظَ، العلم ما نَفَعَ

"Ilmu itu bukanlah yang dihapal, tapi ilmu itu adalah yang memberi manfaat"

Ibnu Jama'ah rahimahullah menambahkan penjelasan :

ومن ذلك دوام السكينة، والوقار والخشوع والتواضع لله والخضوع.

"Di antara manfaat ilmu itu adalah; senantiasa merasakan ketenangan, keteguhan diri/wibawa, khusyu', tawadhu karena Allah dan tunduk"

Di antara nasihat yang ditulis oleh imam Malik kepada Harun Ar-Rasyid rahimahumallah adalah :

إذا علمت علمًا فَلْيُرَ عليك أثره وسكينته وسمته ووقاره وحلمه لقوله - صلى الله عليه وسلم -: العلماء ورثة الأنبياء.

"Apabila engkau telah mengetahui suatu ilmu, maka lihatlah atsar/dampaknya, ketenangannya, karakternya, kewibawaannya dan kesantunannya, berdasarkan sabda Nabi saw : "Para ulama itu adalah pewaris para Nabi".

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata :

تعلموا العلم وتعلموا له السكينة والوقار

"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu itu ketenangan dan kewibawaan"

Di antara Salaf mengatakan :

حق على العالم أن يتواضع لله في سِرِّه وعلانيته ويحترس من نفسه ويقف على ما أشكل عليه.

"Adalah kewajiban bagi orang yang berilmu untuk tawadhu karena Allah dalam kesendirian dan terang-terangannya, menjaga dirinya dan mengatasi apa yang menjadi problem bagi dirinya".

(Ibnu Jama'ah, Tadzkirotus Sami wal Mutakallim, hal. 48-49).

Semoga Allah melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aamiin

Ilmu Tasawuf, antara urgensi dan berhati-hati dari fitnahnya

Oleh : Muhammad Atim

 

 Pentingnya ilmu Tasawuf di zaman ini, adalah ketika godaan-godaan dunia semakin besar dan deras. Memang di zaman Rasulullah saw dan para sahabat godaan itu telah ada, tapi dari waktu ke waktu godaan/fitnah semakin bertambah berat, hingga manusia menjumpai fitnah terbesar akhir zaman menjelang kiamat, di antaranya fitnah dajjal.

Ilmu Tasawuf, sebagaimana maksud dari ilmu ini, adalah untuk menguatkan dan memperbaharui keimanan, membersihkan hati dari berbagai penyakitnya, dan menggapai ridha Allah dengan amal shaleh terbaik. Kadar fardhu 'ainnya adalah dengan ilmu ini mampu menjaga keimanan, menghindari penyakit hati yang membuat celaka seperti sombong, zalim, riya, dusta, dsb, menjaga tercapainya pahala ibadah, yang disertai dengan kesadaran ruhiyyah. Kadar fardhu kifayahnya adalah mampu membimbing orang lain dengan ilmu ini, dan meluruskan kekeliruan-kekeliruan/syubhat-syubhat yang terjadi di dalamnya. Sedangkan kadar kesunnahannya, seseorang dapat beribadah, berakhlaq dan beradab dengan kualitas yang lebih baik.

Hanya saja, fakta sejarahnya berbicara kepada kita, justru dalam ilmu tasawuf itu sendiri ada yang menjadi fitnah. Alih-alih dapat menguatkan keimanan, justru malah terjerumus kepada penyimpangan aqidah yang mendalam. Misalnya keyakinan wihdatul wujud (menyatunya wujud Tuhan dengan makhluk) -na'udzu billah- Keyakinan seperti ini berasal dari kristen yang menyakini menyatunya unsur ketuhanan (lahut) dengan manusia/nabi Isa (nasut). Konsep ini pertama kali dilontarkan oleh Al-Hallaj yang ia dihukum mati karenanya. Lalu diteruskan oleh Ibnu Arobi Al-Hatimi, dll. Lalu keyakinan kemampuan mengurus alam (tashorruf) bagi orang yang telah mencapai maqom tertentu. Diyakinilah adanya wali quthub, yaitu ghouts satu-satunya di bumi, wali awtad dan abdal. Yang menjadi penyebab dijadikan adanya tandingan bagi Allah. Terjadilah kemusyrikan yang besar, memohon pertolongan (istighotsah) kepada selain Allah. Bahkan, seorang murid di awal perjalanan suluknya agar jangan memohon kepada Allah, tapi memohon kepada gurunya, karena gurunya telah mengenal Allah, sedangkan muridnya baru mengenal gurunya. Tentu ini adalah kesesatan yang nyata. Menganggap kewalian melebihi kenabian. Kultus terhadap guru yang mengharuskan kepasrahan total kepadanya, memberikan apapun yang dimintanya, hingga menghalalkan yang haram. Bahkan menjadi alat pemuas syahwat gila hormat, "pemerasan" harta untuk memperkaya diri, dan pembodohan. Belum lagi kebid'ahan dalam cara ibadah yang dibuat-buat, seperti tari-tarian, hingga seperti mabuk dan kegila-gilaan. Menganggap dzikir dan shalawat tertentu lebih baik dari Al-Qur'an dan shalat. Sampainya kepada hakikat dan ma'rifat dianggap boleh melampaui syariat. Hakikatnya mereka tidak sampai kepada Allah, tapi sampai kepada tipuan iblis. Akhirnya sibuk dengan menerka-nerka yang ghaib atas dasar kasyaf yang halu, klaim karomah yang sulit dibedakan dari sihir dan perdukunan, yang justru dengan itulah fitnah terbesar dajjal menipu manusia. Bukannya sibuk dengan mujahadah menjalankan syariat, menetapi maqom-maqom pensucian jiwa seperti keikhlasan, kejujuran dan ketawadhuan. Karena tidak ada hakikat dan ma'rifat yang digapai tanpa iltizam dan istiqomah dalam syariat.

 Besarnya fitnah ini, hingga hampir tidak ada tarekat-tarekat shufi pada zaman ini yang terlepas dari penyimpangan dan kebid'ahan ini. Karena justru hal seperti itulah yang dijadikan jalan pintas menuju klaim sampai pada maqom tertinggi, pembodohan dan digandrungi masyarakat awam.

Sebenarnya, penyimpang-penyimpangan atas nama tasawuf di atas telah diperingatkan oleh para ulama besarnya, para ulama tasawuf yang ahlus sunnah. Sejak Junaid Al-Baghdadi, Al-Qusyairi, Al-Ghazali, hingga Ahmad Zarruq dan seterusnya. Sehingga, kalau kita ingin selamat dalam bertasawuf, maka ikutiah ulama-ulama yang lurus di dalamnya, yaitu dengan mengkaji dan mengamalkan kitab-kitab karya mereka.

Terhadap tasawuf dan segala problematikanya ini, ada kelompok yang tertipu dengan penyimpangannya. Sebaliknya, ada kelompok yang menolak secara mutlak tanpa mau membedakan mana tasawuf yang haq dan mana yang batil, hingga keras dan kakulah jiwa mereka karena tidak mau melakukan proses pensucian jiwa melalui ilmu tasawuf yang haq ini. Yang ketiga, ada kelompok yang mau membedakan mana tasawuf yang haq dan mana yang batil. Mengambil yang haq dan membuang yang batil. Meneruskan peran para ulama dalam membersihkan penyimpangan dan syubhat-syubhatnya. Kelompok inilah, saya kira jelas tak diragukan lagi, yang layak diikuti. Karena karakter kebenaran Islam itu selalu pertengahan (wasathiyyah). Pertengahan di antara dua kebatilan.

Wallahu A'lam.

Sabtu, 26 Februari 2022

KEUTAMAAN ADAB

 


Oleh : Muhammad Atim, Lc

 

Apa itu adab?

Kata adab secara bahasa bermakna ad-du’a (undangan/ajakan). Maka ada kata ma’dubah (الْمَأْدُبَة) artinya undangan kepada hidangan makanan. Maka adab dinamakan adab karena ia adalah sesuatu yang orang diajak kepadanya. Mengajak orang kepada hal-hal yang terpuji dan melarang mereka dari hal-hal yang buruk. (Lihat Lisanul ‘Arab, Ibnu Manzhur, 1/206, Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, 13/433).

Sedangkan secara istilah, ada definisi-definisi yang diungkapkan oleh para ulama. Diantaranya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (w.751 H) mendefinisikan :

الأَدَبُ : اِجْتِمَاعُ خِصَالِ الْخَيْرِ فِي الْعَبْدِ

“Adab adalah berkumpulnya sifat-sifat baik pada seorang hamba” (Madarijus Salikin, 2/100)

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) mendefinisikan  :

الأَدَبُ : اِسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا

“Adab adalah menerapkan segala sesuatu yang terpuji baik berupa perkataan maupun perbuatan”.

Lalu Ibnu Hajar menyebutkan definisi lainnya :

الأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

“Melaksanakan akhlaq-akhlaq yang mulia”.

الوُقُوْفُ مَعَ الْمُسْتَحْسَنَاتِ

“Berpegang kepada hal-hal yang baik/bagus”. (Fathul Bari, 13/433).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa adab adalah kumpulan sifat-sifat terpuji yang dilaksanakan oleh seorang hamba baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sifat-sifat tersebut merupakan akhlaq yang mulia, yang baik, bagus dan indah.

Adab menempati posisi yang tinggi di dalam Islam. Seseorang yang melaksanakan adab-adab Islam artinya dia mengamalkan ajaran Islam secara keseluruhannya. Oleh karena itu Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan : “Adab adalah agama Islam secara keseluruhannya”. (Madarijus Salikin, 2/107).

Syariat Islam itu memiliki tiga dimensi, yaitu dimensi aqidah (keyakinan), dimensi fiqih (amalan secara fisik) dan dimensi akhlaq atau adab (amalan hati yang tercermin dalam sifat-sifat terpuji). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jibril as yang terkenal yang menerangkan tentang tiga rukun agama, yaitu iman, islam dan ihsan. Pokok dari aqidah adalah 6 rukun iman, pokok dari fiqih adalah 5 rukun islam, dan pokok dari akhlaq atau adab adalah 1 rukun ihsan. Rukun ihsan itu sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah adalah “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah, jika tidak mampu melakukannya maka (yakinilah) bahwa sesungguhnya Allah melihatmu”. Inilah yang disebut dengan muroqobah, yaitu meyakini dan merasakan, melihat dengan mata batin, kehadiran Allah SWT dalam setiap gerak-gerik kita, sehingga menjadikan seluruh gerak-gerik hidup kita sebagai ibadah kepada-Nya dengan kualitas yang terbaik, dan selalu merasa bahwa Allah mengawasi dan memperhatikan kita.

Pelaksanaan adab itu merupakan puncak dari pengamalan ajaran Islam. Aqidah adalah standar seseorang menjadi muslim, fiqih merupakan standar seseorang beramal shaleh secara benar, sedangkan dengan akhlaq atau adab seseorang dapat sampai kepada kesempurnaan, kualitas terbaik dan keindahan dalam beramal shaleh.

Untuk itu Rasulullah bersabda dalam hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya”. (HR. Abu Dawud no.4682, At-Tirmidzi no.1162).

Al-Jalajili Al-Bashri berkata :

التَّوْحِيْدُ يُوْجِبُ الْإِيْمَانَ فَمَنْ لَا إِيْمَانَ لَهُ لَا تَوْحِيْدَ لَهُ، وَالْإِيْمَانُ يُوْجِبُ الشَّرِيْعَةَ فَمَنْ لَا شَرِيْعَةَ لَهُ لَا إِيْمَانَ لَهُ وَلَا تَوْحِيْدَ لَهُ، وَالشَّرِيْعَةُ تُوْجِبُ الْأَدَبَ فَمَنْ لَا أَدَبَ لَهُ لَا شَرِيْعَةَ لَهُ وَلَا إِيْمَانَ لَهُ وَلَا تَوْحِيْدَ لَهُ

“Tauhid itu mengharuskan adanya iman, siapa yang tidak beriman maka tidak ada tauhid baginya, iman itu mengharuskan adanya syariah, siapa yang tidak melaksanakan syariat maka tidak ada iman dan tidak ada tauhid baginya, dan syariat itu mengharuskan adanya adab, siapa yang tidak melaksanakan adab maka tidak ada syariat, tidak ada iman dan tidak ada tauhid baginya”. (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, hal.316-317, Nukhbatul Mathlub min syarhi Muthahharatil Qulub, Muhammad Hasan bin Ahmad Khadim Al-Ya’qubi, hal.19).

Abu Bakar Ad-Dainuri berkata : “Tidaklah orang sampai kepada derajat yang tinggi dengan banyak shalat, shaum dan shadaqah, tetapi ia sampai kepada derajat yang tinggi hanyalah dengan adab.” Ibnu Abi Al-‘Asyair berkata : “Tidaklah sampai para wali kepada apa yang telah mereka capai kecuali dengan adab.” (Nukhbatul Mathlub min syarhi Muthahharatil Qulub, Muhammad Hasan bin Ahmad Khadim Al-Ya’qubi, hal.19).

Adab itu menyempurnakan dan memperindah setiap amal yang kita lakukan. Secara umum ia terbagi kepada tiga, yaitu adab kepada Allah, adab kepada sesama makhluk dan adab kepada diri sendiri. Dalam surat Al-Hujurat, yang disebut sebagai surat akhlaq atau adab, terangkum adab-adab ini. Dalam adab kepada makhluk khususnya kepada sesama manusia lebih dirinci dari mulai adab kepada Rasulullah , adab kepada sesama orang beriman, baik yang taat maupun yang fasiknya, baik ketika ia hadir di hadapan ataupun saat ia tidak ada, dan adab kepada sesama manusia secara umum. Karena adab ini untuk menyempurnakan dan memperindah amal, maka ia masuk ke dalam seluruh pelaksanaan syariat. Maka secara hukum, adab ini ada yang bersifat wajib dan ada yang sunnah. Jika berkaitan dengan larangan, ada yang termasuk haram dan ada yang termasuk makruh. Bahkan ada di antara adab jika seseorang tidak mengamalkannya ia bisa terjerumus kepada kemurtadan. Misalnya menghina Allah dan Rasul-Nya, atau melecehkan diantara syiar-syiar dan hal-hal yang sakral/disucikan dalam Islam. Inilah yang diperingatkan dalam surat Al-Hujurat, bahwa tidak beradab kepada Rasulullah misalnya mengeraskan suara di hadapannya bisa menyebabkan gugurnya pahala amalan, artinya bisa terjerumus kepada kemurtadan karena kemurtadan itu menghapus seluruh amal shaleh yang telah dilakukan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat : 2).

Karena pelaksanaan adab merupakan puncak dari pelaksanaan ajaran Islam, maka pengamalan dan pembiasaannya harus dimulai sejak dini. Tidak seperti aqidah yang bisa saja dalam waktu yang sebentar seseorang dapat beriman menyakini aqidah Islam, atau ilmu yang bisa dengan cepat ditangkap oleh akal, karena adab itu karakter yang tertanam di dalam diri, ia membutuhkan proses yang tidak sebentar. Maka belajar untuk mengamalkan dan membiasakan adab itu mesti didahulukan daripada mempelajari ilmu secara kognitif.

Dalam tafsir ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata :

أَدِّبُوهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ

“Ajarkanlah mereka adab, ajarkanlah mereka ilmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8 hal.167)

Imam Malik rahimahullah berkata kepada seorang pemuda Quraisy :

يَا بْنَ أَخِي، تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau belajar ilmu”. (Hilyatul Aulia, Abu Nu’aim Al-Asfahani, 6/330).

Abdullah bin Mubarok berkata :

طَلَبْتُ الْأَدَبَ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً

“Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun”. (Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra, Ibnul Jazari, 1/399).

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَخْرُجُ فِي أَدَبٍ يَكْسِبُهُ السِّنِيْنَ ثُمَّ السِّنِيْنَ

“Jika seseorang keluar untuk belajar adab, maka ia akan memperolehnya selama bertahun-tahun”.

Habib bin Syahid berkata kepada anaknya :

يَا بُنَيَّ! اِصْحَبِ الْفُقَهَاءَ وَالْعُلَمَاءَ، وَتَعَلَّمْ مِنْهُمْ، وَخُذْ مِنْ أَدَبِهِمْ، فَإِنَّ ذَلِكَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَثِيْرٍ مِنَ الْحَدِيْثِ

“Wahai anakku! Bergaulah bersama para ahli fiqih dan para ulama, belajarlah dari mereka, dan ambillah adab mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak meriwayatkan hadits”.

 Makhlad bin Husain berkata kepada Abdullah bin Mubarok :

نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْحَدِيْثِ

“Kita lebih membutuhkan kepada banyak adab daripada kepada banyak meriwayatkan hadits”.

وَقِيْلَ لِلشَّافِعِي رَحِمَهُ اللهُ : كَيْفَ شَهْوَتُكَ لِلْأَدَبِ؟ قَالَ : أَسْمَعُ بِالْحَرْفِ مِنْهُ مِمَّا لَمْ أَسْمَعْهُ فَتَوَدُّ أَعْضَائِي أَنَّ لَهَا أَسْمَاعًا تَتَنَعَّمُ بِهِ، وَقِيْلَ : وَكَيْفَ طَلَبُكَ لَهُ ؟ قَالَ : طَلَبُ الْمَرْأَةِ الْمُضِلَّةِ وَلَدَهَا وَلَيْسَ لَهَا غَيْرُهُ

Dikatakan kepada imam Syafi'i rahimahullah, "Bagaimanakah syahwat (ambisi)mu kepada adab?” Beliau menjawab, "Aku mendengarkan satu huruf dari belajar adab sesuatu yang belum pernah aku dengar, seluruh anggota badanku sangat ingin memiliki pendengaran agar dapat menikmatinya (tidak hanya telinga)." “Lalu bagaimana pencarianmu terhadapnya?” Ia menjawab : "Seperti seorang perempuan mencari anaknya yang hilang dan dia tidak memiliki anak yang lain"

(Perkataan para ulama di atas terdapat dalam kitab Tadzkirotus Sami wal Mutakallim, Ibnu Jama’ah, hal.31-33).

Saking pentingnya adab, jika kita mengamati Al-Qur’an dan Hadits, kita akan dapati keduanya sangat penuh dengan pengajaran adab baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Dalam Al-Fatihah saja kita sudah diajari adab bagaimana berbicara atau berdoa kepada Allah. Yaitu ketika kita berdoa,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat”.

Ketika kita menyebut ni’mat, kita sandarkan kepada Allah “Engkau beri ni’mat”, tapi ketika kita menyebut tentang kemurkaan dan kesesatan, kita tidak menyandarkannya kepada Allah, kita mengatakan “mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat”, kita tidak mengatakan “Engkau murkai dan Engkau sesatkan”, ini merupakan adab kepada Allah, bahwa segala kebaikan itu disandarkan kepada Allah, sedangkan segala keburukan tidak disandarkan kepada Allah.

Iblis adalah contoh dalam bersikap tidak beradab kepada Allah, yaitu ketika ia sendiri memilih jalan kesesatan dengan membangkang kepada perintah Allah, ia malah menuduh bahwa Allahlah yang telah menyesatkannya,

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Karena Engkau telah menyesatkan aku, maka pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al-A’raf : 16).

Akhirnya Iblis pun menjadi makhluk yang terlaknat dan divonis menjadi penghuni neraka.

Dalam hal adab kepada sesama muslim misalnya, selain dirinci di dalam surat Al-Hujurat, Rasulullah juga menjelaskan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim no.2564).

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar dapat mengamalkan dan berpegang teguh kepada adab-adab Islam.

Jumat, 07 Januari 2022

Mengenal Ilmu Suluk (2)

 


Oleh : Muhammad Atim, Lc

 

Peletak

Akar kemunculan ilmu ini tentu saja adalah Al-Qur’an dan Sunnah, seperti halnya ilmu-ilmu syar’i yang lain. Ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam, karena merupakan rincian dari ihsan, rukun agama yang ketiga. Sebagaimana dalam hadits Jibril yang berbicara tentang tiga rukun agama (iman, islam dan ihsan) yang menunjukkan bahwa agama Islam ini dipraktekkan dalam keyakinan (aqidah), amalan fisik (fiqih) dan amalan hati (suluk). Banyak sekali ayat dan hadits yang berbicara tentang amalan hati ini. Rasulullah telah mempraktekkan Islam ini secara sempurna, tidak memisah-misahkan mana wilayah aqidah, fiqih dan suluk. Begitupun beliau mendidik para sahabat dengan manhaj pendidikan yang komprehensif, karena seperti itulah seharusnya Islam dipraktekkan.

Pada zaman beliau dan para sahabat belum ada kebutuhan terhadap pengkodifikasian dan spesialisasi keilmuan, semuanya masih berjalan secara alami. Meskipun begitu, benih-benih munculnya ilmu suluk telah ada. Misalnya perhatian para sahabat akan pentingnya usaha pembersihan diri. Diantaranya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata : “Duduklah, mari kita beriman sejenak (maksudnya memperbaharui keimanan)”. (Atsar ini disebutkan oleh imam Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dalam kitab iman, dan disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dan imam Ahmad dengan sanad yang shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/67). Perkataan ini mirip dengan yang sering dikatakan oleh Abdullah bin Rowahah radhiyallahu ‘anhu kepada para sahabat yang lain, termasuk suatu ketika kepada Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. Abu Darda ra berkata : “Ibnu Rowahah pernah mengambil tanganku dan berkata : “Mari kita beriman sejenak! Sesungguhnya hati itu lebih cepat berbolak baik daripada isi panci saat mendidih”. (Syu’aib Al-Arnauth, Takhrij Syarhus Sunnah, 1/168).

Kondisi hati yang membutuhkan pembersihan dari waktu ke waktu sebagai upaya memperbaharui keimanan ini juga pernah dirasakan oleh para sahabat saat Rasulullah masih ada. Seperti dalam kisah Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu berikut ini :

عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ قَالَ وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzhalah Al-Usayyidi dia berkata; -ia adalah salah seorang juru tulis Rasulullah - dia berkata, "Saya pernah berjumpa dengan Abu Bakar dan ia berkata kepada saya; 'Bagaimanakah keadaanmu wahai Hanzhalah? 'Saya (Hanzhalah) menjawab; 'Hanzhalah telah menjadi orang munafik.' Abu Bakar terperanjat seraya berkata; 'Subhanallah, apa maksud ucapanmu tadi hai Hanzhalah? ' Saya menjawab; 'Ketahuilah olehmu hai Abu Bakar, ketika kami berada di sisi Rasulullah, beliau sering mengingatkan kami tentang siksa neraka dan nikmat surga hingga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Akan tetapi, ketika kami keluar dari sisi Rasulullah, maka kami pun berlaku kasar dan jahat kepada istri dan anak-anak kami serta sering melakukan perbuatan yang tidak berguna. Jadi, kami ini sering lengah.' Abu Bakar berkata; 'Demi Allah, kami juga sering berbuat seperti itu hai Hanzhalah.' Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menuju ke rumah Rasulullah . Sesampainya di sana, saya berkata; 'Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah menjadi munafik.' Rasulullah bertanya: 'Apa maksudmu hai Hanzhalah? ' Saya meneruskan ucapan saya; 'Ya Rasulullah, ketika saya berada di sisi engkau, kemudian engkau menerangkan kepada saya tentang siksa neraka dan nikmat surga, seolah-olah saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Akan tetapi, ketika saya telah keluar dari sisi engkau, maka saya pun berlaku kasar kepada istri dan anak-anak saya serta sering melakukan perbuatan yang tidak berguna. Jadi saya sering bersikap Iengah.' Mendengar pernyataan tersebut, Rasulullah bersabda, 'Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh jika kamu senantiasa menetapi apa yang kamu lakukan ketika kamu berada di sisiku dan ketika kamu berzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu dalam setiap langkah dan perjalananmu. Tetapi, tentunya yang demikian itu dilakukan sedikit demi sedikit (dari waktu-kewaktu, secara berkala, tidak spontanitas).' Beliau mengulangi kata-kata itu tiga kali. (HR. Muslim, no. 2750).

Selain itu, para sahabat meskipun secara umum mereka adalah generasi terbaik, yang tentu dengan kualitas keimanan dan amal yang terbaik pula, dalam pelaksanaannya mereka memilih cara dan amalan unggulan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Misalnya perbedaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam hal shalat witir, Abu Bakar shalat witir sebelum tidur sedangkan Umar shalat witir setelah bangun tidur. Ada sahabat yang sangat memperbanyak shaum sunnah seperti Aisyah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Abu Thalhah, dll, namun ada pula yang sedikit dalam shaum sunnah seperti Abdullah bin Mas’ud. Ketika ditanya, ia menjawab : “Karena kalau aku shaum, aku menjadi lemah tidak mampu shalat dan membaca Al-Qur’an, sedangkan shalat dan membaca Al-Qur’an lebih aku sukai daripada shaum.” Ada sahabat yang memegang amanah kepemimpinan dan jabatan, dan adapula yang memilih untuk zuhud dari kepemimpinan dan jabatan seperti Abu Dzar Al-Ghifari. Radhiyallahu ‘anhum jami’an. Makanya nanti di surga, penghuninya akan dipanggil melalui pintu amalan unggulannya. Ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat, ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad, ahli shaum akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan dan ahli shadaqah akan dipanggil dari pintu shadaqah, dan juga pintu-pintu yang lainnya sebagaimana diisyaratkan dari hadits-hadits lain. Rasulullah berharap bahwa Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah termasuk orang yang dipanggil dari semua pintu surga itu. (Lihat Shahih Bukhari no.3666).     

Para sahabat telah mampu menjaga kebersihan hati mereka di tengah godaan duniawi yang sangat deras, diantaranya godaan kekuasaan dan harta kekayaan yang berlimpah. Melalui sentuhan pendidikan Rasulullah kepada mereka, mereka telah memiliki bekal untuk menghadapi itu semua. Dan dengan usaha yang terus menerus dalam membersihkan hati, mereka tidak tertipu oleh berbagai godaan itu.

Pada zaman tabi’in, godaan tersebut semakin besar dan tidak sedikit yang terpedaya. Maka mereka membutuhkan usaha yang lebih kuat untuk membersihkan hati mereka. Dikenallah para ulama tabi’in yang memberikan perhatian yang cukup serius pada tarbiyah ruhiyyah ini. Diantaranya yang paling menonjol adalah Hasan Al-Bashri (21-110 H) dan Muhammd bin Sirin (32-110 H). Tidak sedikit ketika itu, orang-orang yang ketika merasakan ada kekotoran dan kekerasan dalam hatinya, mereka mendatangi para ulama dan orang-orang yang memfokuskan diri dalam beribadah yang mengalir hikmah pada lisan-lisan mereka untuk meminta nasihat dan peringatan dari mereka.

Di masa tabi’ut tabi’inlah kemudian dimulai pengkodifikasian. Dimana pada mulanya para ahli hadits menaruh perhatian pada bidang suluk ini dengan menuliskan kitab khusus yang berisi hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang berkenaan dengannya, khususnya terkait dengan tema zuhud dan raqaiq (pelembut hati). Misalnya kitab zuhud yang ditulis oleh Abdullah bin Mubarak (118-181 H), Waqi’ bin Al-Jarroh (129-196 H), Asadus Sunnah (132-212 H), Hannad bin As-Sarri (152-243 H), Ahmad bin Hanbal (164-241 H), Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H), dll. Kemudian datang Ibnu Abi Dunya (208-281 H) menuliskan kitab-kitab dalam bidang suluk dengan tema-tema yang sangat bervariasi, yang corak penulisannya masih dengan corak para ahli hadits, yaitu dengan menghimpun hadits-hadits dan riwayat-riwayat di dalamnya. Selain mereka, berikutnya ada pula Abu Bakar Al-Baihaqi (384-458 H) menulis beberapa kitab di antaranya kitab Az-Zuhd, Ad-Da’awat Al-Kubra, Ad-Da’awat Ash-Shugra, dll. Juga Abu Nu’aim Al-Asfahani (336-430 H) menulis kitab yang cukup penting berkaitan dengan ilmu ini yaitu kitab Hilyatul Aulia yang berisi biografi orang-orang shaleh dari mulai Rasulullah dan seterusnya dengan secara khusus menyoroti sisi manhaj suluk mereka. Kemudian kitab ini diringkas dan diseleksi oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi (510-597 H) dalam kitabnya Shifatu Ash-Shafwah.    

Adapun yang dikatakan sebagai peletak dalam arti yang pertama kali menuliskannya sebagai bidang ilmu tersendiri, menyusun bab-babnya dan membuat kaidah-kaidahnya, meskipun para ahli ilmu ini tidak menyematkannya pada satu orang, hanya hampir seluruh mereka sepakat bahwa yang banyak meng-asaskan kaidah-kaidah ilmu ini adalah Junaid Al-Baghdadi (215-298 H), sehingga ia digelari dengan syekh/sayyid Thaifah. Meskipun sebelumnya, gurunya yaitu Harits Al-Muhasibi (170-243 H) telah cukup banyak menulis kitab-kitab berkaitan dengan bidang suluk ini.

Sejak awal, ilmu suluk atau tasawuf ini disusun secara benar, sangat berpatokan kepada syariat dan kaidah-kaidahnya. Meskipun dalam perjalanan waktu, kemudian tidak sedikit yang menyelewengkannya hingga terang-terangan menyelisihi syariat dan akidah Islam. Makanya Junaid Al-Baghdadi menegaskan dengan perkataannya :

مَنْ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ، وَلَمْ يَكْتُبِ الْحَدِيْثَ، لَا يُقْتَدَى بِهِ فِي هَذَا الْأَمْرِ لِأَنَّ عِلْمَنَا هَذَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

 “Siapa yang tidak menghapal Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, ia tidak boleh diikuti dalam urusan ini (ilmu tasawuf). Karena ilmu kita ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, hal. 51).

Selain Junaid yang memimpin ilmu tasawuf di belahan timur, pada masa yang sama juga ada ahli yang memimpin ilmu tasawuf ini di belahan barat yaitu Sahl At-Tustari (200-283 H).

Setelah itu datanglah Abul Qasim Al-Qusyairi (376-465 H) yang menyusun ilmu tasawuf ini lebih lengkap dengan menjelaskan istilah-istilahnya dan membahas masalah-masalah keilmuannya secara lebih mendalam, dan memulai pembahasan awalnya dengan menyebutkan para ulama tokoh ilmu tasawuf yang sangat berpegang teguh kepada sunnah dan syariah, dalam kitabnya yang terkenal Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah.

Berikutnya datang para ulama yang consern dengan ilmu ini dengan menuliskan kitab-kitab dan mempraktikkan usaha tarbiyyah ruhiyyah ini, baik kepada diri sendiri maupun kepada murid-muridnya. Para ulama tersebut membuat metode dan cara-cara untuk sampai kepada tujuan dari ilmu ini, yaitu mengenal dan dekat dengan Allah, dan tercapainya kebersihan hati. Metode-metode ini kemudian dikenal dengan tarekat (thariqah, jama: thuruq). Para ulama ilmu ini yang berpegang kepada sunnah dan syariah, sangat melandaskan tarekat-tarekatnya ini kepada dalil-dalil syar’i. Meskipun tentu saja mereka tidak ma’shum, bisa saja mereka terjerumus kepada kesalahan. Dengan keilmuan mereka yang luas dan banyak manfaat dan ketaqwaan mereka yang dikenal, seharusnya kita mengedepankan husnuzhan kepada mereka. Kesalahan mereka bagian dari ijtihad yang benarnya mendapat dua pahala dan salahnya mendapat satu pahala. Kekeliruan-kekeliruan atas nama ilmu tasawuf, baik dari kejahilan para pengikut dan para pengklaim yang menisbatkan diri pada ilmu ini, atau dari perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada tokoh-tokohnya, tidak lantas menafikan keaslian ilmu tasawuf yang secara asal dapat diterima secara syariat, bahkan bagian penting dari syariat itu sendiri. Apa yang datang dari para pendaku ilmu ini, tinggal ditimbang saja secara syar’i. Yang berkaitan dengan akidah, maka ditimbang dengan ilmu akidah yang benar, yang berkaitan dengan fiqih, ditimbang dengan ilmu fiqih, yang berkaitan dengan metode memahami nash, ditimbang dengan ilmu ushul fiqih, yang berkaitan dengan penafsiran Al-Qur’an, ditimbang dengan ilmu tafsir, yang berkaitan dengan hadits, ditimbang dengan ilmu hadits, dst. Perkataan-perkataan di antara tokohnya yang bermasalah, atau sulit dipahami, atau bahkan secara zahirnya bertentangan dengan syariat (syathahat), selama masih bisa dita’wil dan diberi udzur, maka hal tersebut perlu dilakukan. Dan tentu kita mesti menolak hal yang memang jelas-jelas bertentangan dengan syariat. Di samping kita mesti meneliti terlebih dahulu penisbatan perkataan-perkataan tersebut, karena bisa jadi, bahkan tidak sedikit penisbatan tersebut hanyalah dusta belaka.

Di antara ulama yang terkenal ahli dalam ilmu ini adalah Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H). Banyak kitab-kitab yang beliau tulis dalam bidang ilmu ini. Yang terpenting adalah kitab Ihya Ulumiddin. Kitab ini sangat monumental, berperan besar dalam perkembangan ilmu tasawuf, dan menjadi rujukan utama bagi para pengkaji tasawuf. Meskipun tentu karena penulisnya tidak ma’shum, ada saja kekurangan di dalamnya, misalnya banyak memuat hadits yang dhaif dan maudhu. Tetapi secara umum dapat diterima secara luas oleh para ulama dan kaum muslimin. Para ulama ahli hadits kemudian tidak segan untuk mentakhrij hadits-hadits di dalamnya misalnya Al-‘Iraqi (725-806 H), Az-Zarkasyi (745-794 H), Muhammad bin Ya’qub Fairuz Abadi (729-817 H) penulis kitab kamus, dan Murthadha Az-Zabidi (1145-1205 H). Murtadha Az-Zabidi menulis syarahnya yang terkenal yaitu Ithaf Sadatil Muttaqin fi Syarhi Ihya Ulumiddin. Selain itu, Al-Ghazali juga banyak menulis kitab lainnya di antaranya Bidayatul Hidayah, Minhajul ‘Abidin, dll.

Selain Al-Ghazali, masih terhitung sezaman dengannya yaitu Abdul Qadir Al-Jilani (470-561 H). Ia menjadi tokoh besar dan sangat terkenal dalam ilmu ini, yang digelari sulthan Auliya. Beliau memang diakui keilmuan dan keshalehannya, dan memiliki manhaj pendidikan rohani yang bagus, sehingga menjadi thariqah yang banyak diikuti yang dikenal dengan tarekat Al-Qadiriyyah. Petuah-petuahnya banyak mengandung hikmah yang dapat memberi pengaruh terhadap pendidikan jiwa orang. Bahkan beliau juga seorang ulama ahli fiqih di dua madzhab sekaligus yaitu Hanbali dan Syafi’i. Banyak kitab yang beliau tulis dalam ilmu tasawuf ini, diantaranya kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq, Adab As-Suluk wa At-Tawashul ila Manazil As-Suluk, Ighatsatul ‘Arifin wa Ghayatu Muna Al-Washilin, Tuhfatul Muttaqin wa Sabilul ‘Arifin, Sirrul Asrar, dll.  Memang ada perkataan-perkataan beliau yang dinilai keliru, tetapi hal itu bisa dita’wil dan diberikan udzur seperti banyak dilakukan oleh Ibnu Taimiyyah (661-728 H). Ibnu Taimiyyah sendiri sangat mengakui pentingnya ilmu suluk ini dan mengakui para ulamanya, dalam kitab Majmu Fatawanya ada pembahasan khusus tentang ilmu suluk. Secara silsilah dalam ilmu suluk sebenarnya Ibnu Taimiyyah bersambung kepada syekh Abdul Qadir Al-Jilani, yaitu karena sama-sama merupakan ulama besar dalam madzhab Hanbali, dimana tokoh besar madzhab Hanbali yaitu Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (541-620 H) merupakan murid dari syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Ulama lain yang memiliki metode yang mirip dengan syekh Abdul Qadir Al-Jilani adalah Abu Isma’il Al-Harawi (396-481 H), dan secara usia ia lebih dulu. Kitabnya yang terkenal adalah Manazil As-Sairin. Kitab inilah kemudian yang diperjelas dan dilengkapi oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (691-751 H), murid Ibnu Taimiyyah, dalam kitabnya Madarijus Salikin. Ini adalah kitab yang sangat penting dalam ilmu suluk ini. Ibnul Qayyim juga termasuk ulama yang cukup concern terhadap ilmu ini. Banyak karya-karyanya dalam bidang ilmu ini, di antaranya Uddatu Ash-Shabirin, Badai’ul Fawaid, Al-Fawaid, Ighatsatul Lahafan, Ad-Da wad Dawa, dll.

Selain itu, Abul Faraj Ibnul Jauzi (510-597 H) juga menempuh metode yang mirip dengan Abdul Qadir Al-Jilani dalam hal tarbiyyah ruhiyyah ini. Ia dikenal sebagai seorang wu’azh (ahli nasihat). Banyak orang-orang yang masuk Islam dan bertaubat melalui nasihat-nasihatnya yang menyentuh jiwa. Dan banyak karya yang beliau tulis dalam bidang ilmu suluk ini, diantaranya Shaidul Khatir, Talbisul Iblis, Ath-Thib Ar-Ruhani, Bustanul Wa’izhin wa Riyadhus Sami’in, Minhajul Qashidin, dll. Kitab Minhajul Qashidin merupakan hasil seleksi dari kitab Ihya Ulumiddin imam Al-Ghazali, yang kemudian diringkas oleh Abdurrahman Ibnu Qudamah (597-682 H) dalam kitab Mukhtasar Minhajil Qashidin. Lalu diringkas lagi oleh syekh Muhammad Shaleh bin Ahmad Al-Ghursi (lahir 1369 H/1950 M) dalam kitabnya Manhajul Qashid.

Berikutnya Abul Hasan Asy-Syadzili (571-656 H). Beliau salah seoarang ulama yang ahli dalam bidang ini, seorang ahli ibadah dan zuhud, serta ahli nasihat yang memberi pengaruh. Metode beliau kemudian dikenal dengan tarekat Syadziliyyah. Para ulama yang menempuh thariqah dan madrasah beliau diantaranya adalah Abdus Salam bin Masyisy (559-626 H), Ahmad bin Uqbah Al-Hadhrami (824-895 H), lalu Ahmad Az-Zarruq (846-899 H). Syekh Ahmad Az-Zarruq belajar kepada syekh Zaituni lalu kepada syekh Ahmad bin Uqbah Al-Hadhrami. Beliau menulis cukup banyak kitab dalam bidang ilmu tasawuf, karya-karyanya ini berperan besar dalam memperkaya khazanah dan pembaharuan dalam ilmu tasawuf. Karya-karyanya dalam ilmu tasawuf dikenal memiliki corak yang terpengaruh dengan ilmu fiqih, karena memang beliau juga seorang ahli fiqih, dan banyak membangun kaidah-kaidah ilmu tasawuf yang dilandasi ilmu ushul fiqih dan logika dalam kitab beliau Qawa’id At-Tashawwuf. Kitab ini adalah kitab yang sangat penting dalam ilmu tasawuf. Kitab beliau yang lain adalah Uddathul Murid Ash-Shadiq dan syarahnya, Kannas Az-Zarruq, syarah-syarah beliau terhadap kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah As-Sakandari, An-Nashihah, dll. Bahkan hingga dinisbatkan kepada beliau madrasah khusus yang dikenal dengan thariqah Az-Zarruqiyyah.   

Yang menempuh thariqah Asy-Syadzili berikutnya adalah Ibnu Athaillah As-Sakandari (658-709 H). Beliau juga seorang ahli fiqih yang berguru kepada Sanad bin Inan Al-Maliki (w.541 H). Banyak karya beliau dalam bidang ilmu tasawuf dan yang terpenting adalah kitab Al-Hikam. Kitab lainnya adalah Ushul Muqaddimat Al-Wushul, Ath-Thariqah Al-Jaddah fi Nail As-Sa’adah, Unwan At-Taufiq fi Adab Ath-Thariq, dll. Kitab Al-Hikam Al-Athaiyyah ini sangat terkenal dan tersebar luas, dan banyak para ulama yang menulis syarahnya.

Manfaat

Manfaat dari ilmu suluk atau tasawuf ini adalah seseorang bisa sampai kepada bersihnya hati, ma’rifatullah (mengenal Allah ), dan mencapai derajat ihsan (melakukan dengan kualitas terbaik dan totalitas) dalam ibadah dan beramal shaleh. Dalam prosesnya seseorang akan menyingkap kekurangan dirinya dengan bermuhasabah, lalu bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan-kesalahan tersebut, untuk berikutnya melakukan mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam usaha takholli (mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela), lalu tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji). Dengan ilmu ini seseorang dapat mengekspresikan cintanya kepada Allah, karena rasa cinta adalah buah dari keimanan. Mampu menjaga diri seseorang dari godaan-godaan dunia yang sangat berat. Serta menguatkan jiwa untuk memikul amanah-amanah sebagai hamba Allah di muka bumi ini, amanah dalam menjalankan tugas dakwah dan pejuang di jalan Allah.

Keutamaan

Keutamaan sebuah ilmu adalah seiringan dengan manfaat yang dihasilkannya. Ilmu ini memiliki keutamaan yang sangat besar karena merupakan perincian dari salah satu rukun agama yaitu ihsan, bahkan ia merupakan puncak dari rukun agama. Karena ilmu ini adalah cara untuk mencapai tujuan dari agama itu sendiri, yaitu pensucian jiwa, karena sucinya jiwa adalah modal keselamatan ketika menghadap Allah . “Pada hari tidak berguna harta dan keturunan. Kecuali yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara : 88-89).

Hukumnya secara syar’i

Kadar minimal seseorang dapat melaksanakan kewajibannya secara individu dari ilmu ini hukumnya adalah fardhu ‘ain, dan selebihnya dari itu secara umum adalah fardhu kifayah. Misalnya setiap muslim secara fardhu ‘ain mesti mengetahui melalui ilmu ini cara untuk menghindari sifat tercela yang hukumnya haram, misalnya meninggalkan sifat sombong, riya, hasad, khianat, dusta, dll, serta cara untuk dapat memiliki sifat kebalikannya yaitu tawadhu, ikhlas, berkasih sayang, amanah, jujur, dll. Selebihnya dari itu, misalnya menguasai ilmu ini dalam rangka melakukan tarbiyah ruhiyyah kepada orang lain atau untuk menjawab syubhat-syubhat yang dimunculkan dari ilmu ini, maka hal tersebut termasuk fardhu kifayah. Selain itu, ilmu-ilmu agar seseorang mencapai afdhaliyyah, maka mempelajarinya pun merupakan suatu yang afdhaliyyah, seperti melaksanakan shalat dengan kekhusyuan yang tinggi, zikir di setiap saat, membaguskan akhlak-akhlak terpuji serta disiplin dalam pelaksanaan adab-adab.

Masail (permasalahannya yang dibahas).

Secara global permasalahan yang dibahas dalam ilmu suluk adalah berkisar pada adab kepada Allah, adab kepada diri sendiri dan adab kepada orang lain. Mengenal penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya, untuk kemudian dilakukan proses takholli (mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, lalu tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) dan tajalli (membaguskan akhlak diri dengan level yang lebih tinggi). Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin membagi pembahasan ilmu suluk kepada empat bagian. Yaitu tentang ibadah, tentang ‘adah (adab kebiasaan sehari-hari), tentang perkara-perkara yang mencelakakan (muhlikat) dan perkara-perkara yang menyelamatkan (munjiyat).

Ilmu suluk ini pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan yang ditempuh oleh seseorang (salik/murid) dalam proses pensucian diri menuju ma’rifatullah. Dalam perjalanan ini ada kedudukan-kedudukan jiwa yang mesti dilalui dan dilatih dengan penuh kesungguhan. Kedudukan jiwa ini disebut dengan istilah maqom (jama: maqomat). Misalnya maqom awal yang mesti dilalui adalah maqom yaqzhah (kesadaran diri) dan maqom taubat (kembali kepada Allah). Ketika seseorang telah mencapai suatu maqom, artinya jiwanya telah berkedudukan kuat di dalam maqom tersebut. Ia bersifat menetap dan melekat. Banyak maqom-maqom yang mesti ditempuh oleh seorang salik, diantaranya maqom syukur, sabar, zuhud, muhasabah, muroqobah, mujahadah, jujur, ikhlas, tawakal, istiqomah dan sebagainya. Ketika seseorang berada dalam maqom tertentu terkadang ia mengalami situasi jiwa tertentu yang disebut dengan istilah hal (jama: ahwal). Situasi ini hanya sesaat saja, tidak menetap, dan sifatnya sebagai pemberian dari Allah. Misalnya seorang salik dalam kondisi tertentu merasakan suasana ketentraman (al-uns), kerinduan (asy-syauq) dan sebagainya. Maqomat dan ahwal ini termasuk pembahasan utama dalam ilmu suluk.