Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2022

Kenikmatan Tidur & Malam Yang Menakjubkan



 َوَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتًا (٩) وَجَعَلۡنَا ٱلَّیۡلَ لِبَاسًا (١٠)

“Dan Kami telah menjadikan tidur kalian sebagai pemotong dari aktifitas (istirahat). Dan Kami telah menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba : 9-10).

Allah mengingatkan ni’mat yang dirasakan sehari-hari, yang bisa saja dilupakan dan dianggap sepele, yaitu tidur. Padahal kalau kita mau merenungkannya, niscaya menjadi bukti yang kuat akan keesaan Allah, karena hanya Dialah yang memberikan ni’mat tidur, Dia yang mengaturnya sebagai sistem hidup bagi manusia. Juga sebagai bukti bagi hari kebangkitan, bahwa tidur adalah saudara kandung dari kematian, kalau Allah mampu membuat manusia bangun kembali dari tidurnya, maka tidak sulit bagi-Nya untuk membangkitkan kembali setelah kematiannya.

Allah menyebutkan sifat yang menakjubkan dari tidur ini, yaitu sebagai pemotong dari segala aktifitas, atau istirahat.

Kata as-subat yang merupakan isim mashdar dari kata mashdar as-sabtu artinya  memotong. Maksudnya di sini adalah, “Kami telah menjadikan tidur untuk kalian sebagai pemotong dari pekerjaan fisik, dimana hal itu mesti didapatkan oleh badan”. Adapun diartikan dengan istirahat, ia sebagai tafsiran. Disebutkan subatan dalam ayat ini sangat tepat sekali, karena dalam ayat berikutnya akan diberikan muqobalah (kebalikan) darinya yaitu saat menyebutkan siang sebagai ma’asyan (untuk mencari penghidupan), ma’asyan adalah kebalikan dari subatan. Selain itu, ayat ini menunjukkan suatu sistem tidur yang sangat menakjubkan. Tidur sebagai istirahat dari lelahnya tubuh setelah bekerja dan beraktifitas, ia merupakan suatu pemberian Allah tanpa pilihan manusia, mengistirahatkan saraf-saraf yang bagian terintinya ada di otak, hingga ketika bangun dari tidur, saraf menjadi segar kembali untuk melakukan aktifitas berikutnya, dan begitu seterusnya. Hingga ketika seseorang begadang pun, setelahnya akan dikalahkan oleh rasa kantuk dan tidur, yang membuat tubuhnya beristirahat. Ini sebagai kelembutan dari Allah bagi manusia untuk mengatur dengan baik ketahanan tubuhnya.

Ketika disebutkan tidur sebagai istirahat, akan tergambar bagaimana kondisi tidur tersebut. Maka selanjutnya disebutkan waktu untuk tidur yaitu pada malam hari. Malam adalah waktu yang sangat cocok untuk tidur karena kondisinya yang gelap dan tenang. Malam juga merupakan sistem yang sangat menakubkan menunjukkan keesaan Allah dan kekhususan dalam penciptaan dan pengaturan-Nya. Ini juga untuk menggugurkan keyakinan orang-orang Majusi yang menganggap bahwa kegelapan adalah yang menciptakan keburukan sedangkan cahaya yang menciptakan kebaikan, sehingga mereka meyakini ada dua tuhan. Allahlah semata yang menciptakan cahaya dan kegelapan dan semuanya baik bagi manusia. Kegelapan di malam hari justeru sebuah karunia yang besar bagi manusia, agar mereka dapat beristirahat dengan nyaman.

Allah menyebutkan sifat yang menakjubkan dari penciptaan malam ini, yaitu sebagai pakaian.

Malam disebut sebagai libasan yang berarti pakaian, ini sebagai sebuah tasybih (perumpamaan). Malam diserupakan dengan pakaian karena memiliki sifat yang sama yaitu meliputi. Di bawah sifat meliputi ada tiga sifat lainnya yang menghubungkan keduanya, yaitu pertama, menutupi. Dengan kegelapannya, malam dapat menutupi penglihatan manusia sehingga mereka tidak leluasa untuk melakukan berbagai aktifitas, dan kondisi seperti itu mengarahkannya untuk beristirahat. Kedua, lembut bagi tubuh manusia. Seperti halnya pakaian, malam juga lembut bagi manusia sehingga membuatnya nyaman untuk tidur. Sehingga ada mufassir lain seperti Sa’id bin Jabir, Qotadah dan Suddi yang menafsirkan subatan sebagai sakanan (ketenangan). Ketiga, menjaga. Seperti halnya pakaian, malam dengan kegelapannya dapat menjaga manusia dari berbagai bahaya dan juga serangan musuh, dimana biasanya musuh tidak akan menyerang pada waktu malam. Jika malam tiba, mereka akan menunggu pagi hari untuk melakukan serangan. Termasuk juga menjaga tubuh manusia dari sengatan sinar matahari.


Wallahu A'lam

 (Muhammad Atim, Tafsir Sentuhan Al-Qur'an, Allamasat Al-Qur'aniyyah).

Maisy Institute
t.me/maisy_institute

Sabtu, 23 Juli 2022

Sentuhan Pendidikan dalam Surat Al-Fatihah

 


 Oleh : Muhammad Atim

 

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۝١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۝٢ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۝٣ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝٤ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ ۝٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ ۝٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ ۝٧

“(1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. (3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (4) Yang Menguasai hari pembalasan. (5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus.

(7) Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”

 

Pendahuluan

Ada hikmah yang besar mengapa surat Al-Fatihah selalu kita baca dalam shalat, bahkan shalat kita tidak sah tanpa membacanya. Dilihat dari namanya, yang paling populer adalah tiga nama, yaitu Al-Fatihah (pembukaan), Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) dan As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Ia sebagai pembukaan dan induk Al-Qur’an ternyata merangkum seluruh isi Al-Qur’an. Tidaklah surat-surat yang disebutkan setelahnya melainkan penjabaran darinya. Kalau seluruh isi Al-Qur’an dirangkum maka isinya tiga hal, yaitu aqidah, hukum dan kisah. Ketiganya ada dalam Al-Fatihah, aqidah (ayat 1-4), hukum (ayat 5-6) dan kisah (ayat 7). Bahkan setiap kata yang terdapat dalam Al-Fatihah mencerminkan seluruh isi Al-Qur’an. Karena Al-Fatihah ini merangkum seluruh isi Al-Qur’an, dan merupakan intisari ajaran Islam, maka wajar harus selalu kita ulang setiap hari, minimalnya 17 kali dalam shalat wajib 5 waktu. Agar ia meresap ke dalam diri kita.

Kalaulah kita selalu menghayati makna-makna dari surat Al-Fatihah ini, niscaya hidup kita akan selalu terbimbing. Namun sayangnya, tidak sedikit dari kaum muslimin, meskipun rajin membaca Al-Fatihah, tetapi terluput dari penghayatan terhadapnya. Bisa karena tidak paham isi kandungannya, dan juga malas untuk mempelajarinya. Padahal Allah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dihayati, ditadaburi, agar ia menjadi petunjuk. Dan Allah telah memudahkannya untuk dipelajari. “Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad : 24). “Sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk diingat/dipelajari, maka apakah ada yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar : 17,22,32,40).

Al-Qur’an ini seluruh isinya merupakan pendidikan bagi manusia. Seluruh ayatnya, bahkan kata dan hurufnya mampu memberikan sentuhan pendidikan terhadap diri manusia. Orang-orang hebat dari mulai Rasulullah dan para sahabatnya, dan orang-orang shaleh setelahnya, karena mereka telah terdidik oleh Al-Qur’an. Itulah rahasia kehebatan mereka. Maka sekarang kita tahu, mengapa generasi saat ini begitu rusak padahal telah melalui proses “pendidikan”, karena tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum dan panduan dalam pendidikannya. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat dengan kitab ini (Al-Qur’an) kelompok-kelompok manusia, dan merendahkan kelompok-kelompok lainnya karena meninggalkannya.” (HR. Muslim no.1897, Ahmad no.232). Rasulullah mendidik umatnya dengan membacakan ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka dan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah” (QS. Al-Baqarah : 151, Al-Jumu’ah : 2). Dari ketiga unsur manusia (fisik, akal dan jiwa) yang paling penting untuk diberi pendidikan dan pensucian adalah jiwanya, karena keselamatan manusia ada pada kesucian jiwanya. “Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 8-9). “Pada hari tidak berguna harta dan keturunan, kecuali yang datang kepada Allah membawa hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara : 88-89). Maka mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum dan panduan untuk mendidik diri kita dan juga keluarga kita, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. (QS. At-Tahrim : 11). Berbicara tentang pendidikan, bukan hanya soal mendidik anak-anak kita, tetapi dimulai dengan mendidik diri, lalu keluarga yang di dalamnya ada anak-anak kita, lalu masyarakat secara umum.

 

 

Tadabur ayat 1

Basmalah (bismillahirrahmanirrahim) mengajarkan kita agar memulai segala sesuatu dengan nama Allah. Karena segala hal di dunia ini kalau tanpa disertai dzikir (menyebut dan ingat) kepada Allah akan sia-sia, kesengsaraan di akhirat kelak adalah karena melupakan Allah. Di dalam ucapan basmalah mengandung doa, komitmen dan keyakinan. Doa agar perbuatan yang kita lakukan mendapat rahmat dan keberkahan dari Allah, komitmen untuk melakukannya semata sebagai ibadah kepada Allah dan melaksanakannya sesuai syariat-Nya, dan keyakinan bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali atas izin dan kehendak Allah. Juga mengajarkan kita bahwa pendidikan yang pertama kali yang harus kita lakukan adalah mengenal Allah. Jangan sampai kita sudah mengenalkan banyak hal kepada anak-anak kita, tapi belum mengenalkan Allah. Dengan kata lain, prioritas utama materi pendidikan adalah aqidah, dan inti dari aqidah adalah iman kepada Allah.

Dari sekian banyak nama dan sifat-Nya, Allah mengenalkan Dirinya pertama kali dengan sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), yang keduanya berasal dari akar kata yang sama yaitu rahmat (kasih sayang). Hal itu agar kita mau mendekat kepada-Nya, mengingat segala kebaikan-Nya. Kalau bukan karena kasih sayang-Nya, kita tidak akan mendapatkan segala ni’mat di dunia ini, juga tidak akan mendapatkan keni’matan surga di akhirat kelak. Dan menunjukkan bahwa peluang untuk mendapatkan rahmat-Nya lebih besar daripada mendapatkan kemurkaan-Nya. Asalkan kita mau berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya, Allah akan memberikan jalan kemudahan. Semua ajaran/syariat dalam Islam tegak di atas prinsip rahmat ini. Allah mengutus Rasulullah juga sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sifat kasih sayang Allah inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita, agar ia mau dekat dengan Allah, mengadukan permasalahannya kepada Allah, selalu berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Tadabur ayat 2

Hamdalah (alhamdulillahirabbil ‘alamin) adalah ucapan untuk memuji dan bersyukur kepada Allah. Ini adalah poin penting dalam pendidikan, karena ucapan ini sangat memberi pengaruh untuk bersikap positif dalam diri kita. Kita memuji Allah dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka, karena setiap yang terjadi atas kehendak Allah, dan takdir-Nya adalah yang terbaik. Semuanya mengandung hikmah. Kita ucapkan sebagai rasa syukur setiap selesai melakukan sesuatu, dan atas segala ni’mat. Karena sebaliknya, sikap suka mengeluh akan berpengaruh pada sikap negatif dalam diri kita. 

Allah layak untuk dipuji karena Dia adalah Rabb/Tuhan semesta alam. Rabb dalam arti pencipta, pengatur, dan penguasa. Alam adalah segala sesuatu selain Allah, termasuk manusia, langit, bumi dan segala isinya. Seluruh alam ini adalah makhluk-Nya, ada dalam kekuasaan-Nya. Kalau keyakinan ini selalu kita tanamkan, maka tidak akan ada kekhawatiran dalam hidup kita, karena semuanya tidak akan keluar dari pengaturan Allah. Maka, interaksi kita dengan alam ini harus menyampaikan kita kepada perasaan iman dan mengingat Rabbnya. Alam itu sendiri berasal dari kata ‘alamah (tanda), artinya Allah menjadikannya sebagai tanda akan keberadaan, keesaan dan kekuasaan-Nya. Maka ini menjadi metode dalam menanamkan iman kepada Allah, yaitu dengan mentafakuri alam semesta. Maka segala ilmu yang kita pelajari tentang alam semesta ini, seharusnya dikaitkan dengan iman kepada Allah.

Tadabur ayat 3

Kemudian disebutkan kembali sifat Ar-Rahmanir Rahim, agar kita mengingat bahwa pengaturan Allah di alam ini dilakukan atas dasar kasih sayang, tidak dengan kebengisan dan kezaliman. Semakin kita tahu tentang hakikat di alam ini, maka akan semakin menyadari kasih sayang Allah yang begitu besar untuk seluruh makhluk-Nya.

Tadabur ayat 4

Lalu disebutkan “Yang Menguasai hari pembalasan”. Ini adalah agar kita menanamkan iman kepada hari akhir. Selain Allah berkuasa di dunia, Allah juga berkuasa di hari pembalasan kelak. Bahkan di ayat ini disebutkan secara khusus sifat Malik (penguasa), dan dikaitkan secara khusus kepada hari pembalasan, ini menunjukkan bahwa Allah akan menampakkan sejelas-jelasnnya kekuasaan-Nya di hari kiamat, semua manusia dan semua makhluknya akan mengakui kekuasaan-Nya. Berbeda dengan ketika di dunia, bisa saja sebagian besar manusia tidak menyadari kekuasaan Allah, tidak beriman dan tidak takut kepada Allah, bahkan tidak sedikit para penguasa yang berbuat zhalim dan sewenang-wenang, karena memang dunia ini sebagai ujian.

Ini mengajarkan kepada kita agar menjadikan orientasi pendidikan dan orientasi hidup kita adalah untuk mengejar kebahagiaan di akhirat, bukan dunia. Dunia hanya dijadikan perantara saja untuk kebahagiaan akhirat. Prinsipnya “kejarlah akhirat, dan jangan lupakan bagian di dunia” (QS. Al-Qashash : 77), bukan sebaliknya. Artinya, kita fokuskan seluruh hidup kita untuk meraih kebahagiaan di akhirat dengan beriman dan beramal shaleh, adapun dunia sekedar memenuhi kebutuhan saja. Maka rusaknya pendidikan kita, adalah ketika orientasinya serba duniawi.

Juga agar kita menanamkan keyakinan, bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan ada balasannya di akhirat kelak, dan tidak akan bisa mengelak dari kekuasaan Allah untuk mempertanggungjawabkannya. Berbeda dengan di dunia, bisa saja orang terhindar dari hukuman di dunia.

Dalam ayat-ayat sebelumnya mengandung dua metode pendidikan yang mesti dilakukan secara seimbang, yaitu targib (memberi rangsangan dan motivasi) agar tumbuh sikap roja (penuh harap), dan tarhib (memberi peringatan akan hukuman) agar tumbuh sikap khouf (rasa takut). Yaitu Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim sebagai sebuah rangsangan agar tumbuh rasa penuh harap kita kepada kasih sayang Allah. Lebih jauhnya di dalam Al-Qur’an dijelaskan secara detail tentang surga, sebagai keni’matan yang sesungguhnya, agar kita terangsang untuk mendapatkannya. Lalu Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sifat “Yang menguasai hari pembalasan” adalah sebagai sebuah peringatan akan adanya siksaan bagi orang yang durhaka kepada-Nya, hal ini agar tumbuh rasa takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya yang besar. Lebih jauhnya di dalam Al-Qur;an dijelaskan secara detail tentang neraka, agar kita bersungguh-sungguh untuk terhindar darinya. Rasa penuh harap dan rasa takut ini mesti selalu ada dalam diri orang beriman, agar ia stabil dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah.

Tadabur ayat 5

Keyakinan-keyakinan yang tertanam kuat itu, selanjutnya melahirkan komitmen, yaitu kita menyatakan “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” Karena ini komitmen pernyataan, maka bentuk kalimatnya secara langsung “Hanya kepada Engkaulah”. Komitmen ini selalu kita baca dan selalu kita ingat, bahwa hidup kita semata-mata untuk beribadah kepada Allah, dan hanya kepada Allah, artinya tauhid, tidak menyekutukan-Nya.

Pendidikan selanjutnya setelah mendidik aqidah, adalah mendidik ibadah. Dimulai dari ibadah yang paling utama yaitu shalat. Lalu ibadah-ibadah lainnya baik berkaitan dengan ibadah ritual/mahdhah maupun ghair mahdhah seperti muamalah dengan sesama manusia. Karena hukum syariat Islam itu lengkap dan sempurna menyangkut seluruh aspek kehidupan, berisi rambu-rambu dalam setiap aktifitas manusia. Dalam pendidikan ibadah, diajarkan standar sah ibadah yaitu hukum fiqihnya, dan diajarkan pula penyempurna kualitas ibadahnya yaitu akhlaq atau adab. Kalau ibadah ingin lebih berkualitas tentu harus diiringi dengan akhlak atau adabnya, misalnya shalat diiringi kekhusyuan dan merasa selalu diawasi oleh Allah, begitu pula akhlak kepada sesama manusia, dan kepada alam sekitar.

Dalam ayat ini kita juga diajarkan prinsip mendahulukan kewajiban sebelum hak. Beribadah itu adalah kewajiban kita, sedangkan memohon pertolongan adalah hak kita yang kita mohonkan kepada Allah. Memang Allah senang jika hamba-Nya senantiasa berdoa kepada-Nya, tetapi sebagai adab kepada Allah, dan juga syarat dikabulkannya doa kita, adalah kita menunaikan kewajiban kita terlebih dahulu. Allah berfirman: “Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka penuhilah seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 186). Prinsip ini juga bisa kita terapkan dalam hubungan sesama manusia, yaitu jangan sampai kita banyak menuntut hak, tetapi tidak melakukan kewajiban dengan maksimal.

Menggunakan kata “kami” dalam ayat ini menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam beribadah dan melakukan segala kebaikan, harus ditumbuhkan sikap saling membantu antara satu sama lain.

Tadabur ayat 6

Untuk menjalankan komitmen dalam beribadah, tidak cukup mengandalkan kemampuan diri saja, tetapi mesti diiringi banyak berdoa kepada Allah. Maka di sini kita diajarkan selalu berdoa : “Tunjukilah kami jalan yang lurus’. Di sini kita senantiasa memohon hidayah kepada Allah, meskipun kita telah berada dalam hidayah Islam, artinya memohon ketetapan agar hidayah itu selalu kita pegang hingga akhir hayat dan juga memohon tambahan hidayah. Baik itu berupa hidayah dilalah, yaitu berupa ilmu yang bermanfaat, dan juga hidayah taufik, yaitu berupa bimbingan untuk mengamalkannya. Karena keselamatan itu terletak pada menggabungkan antara ilmu dan amal. Berdoa memohon petunjuk jalan yang lurus ini mesti selalu kita panjatkan, karena dalam hidup ini kita menemui banyak masalah yang perlu kita ketahui solusi penyelesaiannya. Agar kita diarahkan kepada solusi yang dapat menyelamatkan kita. Jalan keselamatan itu tiada lain adalah jalan Islam, satu-satunya agama yang diridhai Allah, yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan segala ilmu yang dilahirkan dari keduanya. Maka inilah yang harus selalu kita pelajari untuk petunjuk hidup kita. Ia disebut jalan yang lurus, karena jalannya itu lurus menuju keridhoan Allah. Sedangkan jalan-jalan kesesatan adalah jalan yang bengkok yang bermacam-macam, tetapi ujungnya akan berakhir dalam siksa Allah, yaitu neraka.

Tadabur ayat 7

Mempelajari jalan yang lurus tidak cukup dengan konsepnya saja, tetapi juga perlu mengetahui orang-orang yang berada di atasnya, dan mengetahui pula orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus. Maka doanya kita teruskan, Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.” Ini menunjukkan pentingnya mempelajari kisah. Dalam Al-Qur’an disebutkanlah kisah-kisah orang yang berada di jalan yang lurus itu, yaitu mereka yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yang tafsirnya ada dalam QS. An-Nisa ayat 69, yaitu para nabi, shiddiqin (orang-orang yang kuat kepercayaannya kepada para Nabi), syuhada (orang-orang yang mati di jalan Allah) dan orang-orang shaleh (secara umum). Disebutkan pula kisah-kisah orang-orang yang melenceng dari jalan yang lurus. Di sini disebutkan dua golongan yaitu mereka yang dimurkai, Rasulullah menyebutkan sebagai contohnya adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang sesat, Rasulullah menyebutkan contohnya adalah orang-orang Kristen. Meskipun keduanya sama-sama dimurkai dan sesat. Tetapi ada ciri khas yang membedakannya, yaitu bahwa orang Yahudi tahu ilmunya tetapi tidak mau mengamalkannya, sedangkan Kristen mau beramal tapi tanpa ilmu. Selain kedua kelompok tersebut, Allah juga menyebutkan kisah-kisah yang sesat lainnya seperti Fir’aun, Qarun dan berbagai kaum para Nabi. Agar menjadi pelajaran bagi kita.

Pelajaran kisah ini menunjukkan pentingnya keteladanan dalam pendidikan. Sehingga menjadi sebab pula rusaknya pendidikan adalah karena tidak adanya keteladanan. Selain orang tua dan para pendidik mesti menjadi teladan, juga perlu ditanamkan kisah-kisah ini. Maka harus ditanamkan kisah Nabi Muhammad karena dia adalah teladan yang sempurna dan yang paling utama. Agar ia dijadikan teladan dalam setiap kehidupan. Begitu pula kisah-kisah para nabi lainnya, lalu kisah para sahabat Rasul, kisah para tabi’in dan para ulama dan orang-orang shaleh setelahnya. Jangan sampai anak-anak kita, bahkan kita sendiri, hampir tidak kenal dengan mereka. Padahal mereka adalah sumber keteladanan yang sangat kaya. Perlu pula dicari dan dikenalkan kepada orang-orang yang alim (ahli ilmu agama) dan orang-orang shaleh yang ada saat ini, juga dijaga pergaulannya agar ia hanya bergaul dan berteman dengan orang-orang shaleh saja, dan berada di lingkungan orang-orang yang shaleh. Ini semua dalam rangka menumbuhkan akhlak mulia dalam diri.

Selain itu, dikenalkan pula orang-orang yang telah tersesat, sebagaimana banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an dan juga dalam hadits, serta disampaikan balasan yang mereka peroleh. Hal itu agar menjadi pelajaran untuk dihindari, bukan untuk ditiru. Juga jika mengetahui orang-orang yang berbuat keburukan pada saat ini, dijadikan sebagai pelajaran untuk dihindari. Meskipun kepada mereka yang masih hidup, ditanamkan juga sikap kasihan dan mau berusaha mengajaknya untuk sadar dan bertaubat, dengan cara yang lembut sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah , dan juga mendoakannya agar mendapat hidayah.

Dalam ayat ini pula kita diajarkan adab kepada Allah dalam berdoa, yaitu menyandarkan kebaikan kepada-Nya, dan tidak menyandarkan keburukan kepada-Nya. Yaitu ketika menyebutkan keni’matan dengan kalimat “Engkau telah beri ni’mat”, ini disandarkan kepada Allah. Sedangkan ketika menyebutkan kemurkaan dan kesesatan, tidak disandarkan kepada Allah, dengan kalimat “Mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat”. Sesuai dengan salah satu doa iftitah yang menyebutkan “Kebaikan itu seluruhnya ada pada kedua tangan-Mu, dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu”. Hal itu karena keburukan yang didapatkan oleh manusia, dan keburukan sesungguhnya adalah kedurhakaan di dunia dan siksaan di neraka, tidaklah ditetapkan begitu saja secara zalim, tetapi ditetapkan secara adil sebagai balasan bagi manusia itu sendiri yang melakukannya, karena mereka telah diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup mereka. Allah adalah pemberi balasan yang seadil-adilnya.

Demikianlah sentuhan pendidikan yang dapat saya kemukakan dari surat Al-Fatihah teramat mulia dan luas kandungannya ini, semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam.

Sabtu, 18 Juni 2022

Tafsir Surat Al-Kautsar


 

TAFSIR

Surat Al-Kautsar

(Ni’mat Yang Banyak/Sungai Al-Kautsar)

Ni’mat Yang Banyak untuk Nabi saw dan Umatnya

 

Oleh : Muhammad Atim

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ۝٢ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ۝٣

(1)   Sesungguhnya Kami telah memberimu al-kautsar (ni’mat yang banyak/telaga al-kautsar)

(2)   Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan menyembelihlah (hewan sembelihan)

(3)   Sesungguhnya pembencimu itu, dialah yang mandul (terhalang dari kebaikan)

 

Pendahuluan

Para ulama berbeda pendapat tentang turunnya surat Al-Kautsar ini, apakah termasuk makiyyah atau madaniyyah. Ia makiyyah menurut pendapat Ibnu Abbas, Al-Kalbi dan Muqatil. Dan madaniyyah menurut pendapat Hasan Al-Bashri, Ikrimah, Mujahid dan Qatadah. Namun yang lebih kuat adalah madaniyyah. Berdasarkan hadits yang menjelaskan tentang surat ini, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan dia adalah sahabat junior dalam periode Madinah, ditambah dengan redaksi yang disebutkan oleh Nabi : “telah diturunkan kepadaku barusan”.

Allah memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad dan umatnya dengan diberinya ni’mat yang banyak. Di antara ni’mat yang banyak itu adalah sungai al-kautsar yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Sebagai sikap syukur atas ni’mat tersebut, maka diperintahkan untuk shalat dan menyembelih. Adapun orang yang membenci Nabi Muhammad , dia adalah orang yang mandul, dalam arti terhalang dari kebaikan, tidak diberi ni’mat sebagaimana yang diberikan kepada beliau dan umatnya. Ini merupakan hiburan bagi beliau dan dorongan untuk tetap optimis dalam menghadapi celaan para musuh Allah.

Tafsir ayat 1 :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ۝١  

“Sesungguhnya Kami telah memberimu al-kautsar (ni’mat yang banyak/telaga al-kautsar)

Disebutkan huruf taukid (penguat arti) agar memberi perhatian terhadap berita yang disampaikan.

Menggunakan kata ganti “Kami” yang menunjukkan keagungan, biasa digunakan dalam rangka pemberian ni’mat yang besar.

Al-Kautsar berasal dari kata “katsura” (banyak), bentuk kata ini menunjukkan makna “sangat”. Al-Kautsar adalah bentuk mashdar yang berarti “kebaikan yang sangat banyak”, bisa juga digunakan sebagai sifat seseorang yaitu : “seseorang yang memperoleh kebaikan yang banyak”. Para ulama salaf beragam dalam menafsirkannya, yang paling umum adalah: kenikmatan yang banyak. Yang lainnya menafsirkan dengan macamnya, yaitu: islam, kenabian, Al-Qur’an, syafa’at, banyaknya umat, termasuk telaga al-kautsar.

Di dalam hadtis yang shahih, Al-Kautsar ditafsirkan sebagai nama dari suatu sungai di surga dan telaga Rasulullah . Namun, makna ini bukanlah pembatasan. Al-Kautsar tetap mencakup makna umum, yaitu seluruh keni’matan yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Hadits-hadits tersebut bahkan mutawatir, diriwayatkan lebih dari 30 orang sahabat. Bahkan Muhammad bin Ja’far Al-Kattani dalam kitabnya Nazhmul Mutanatsir minal Hadits Al-Mutawatir menghitungnya sampai 57 sahabat. Di antara haditsnya sebagai berikut :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ

Dari Anas dia berkata, "Pada suatu hari ketika Rasulullah di antara kami, tiba-tiba beliau tertidur, kemudian mengangkat kepalanya dalam keadaan tersenyum, maka kami bertanya, 'Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab, 'Baru saja diturunkan kepadaku suatu surat, lalu beliau membaca, 'Bismillahirrahmanirrahim, Inna A'thainaka al-Kautsar Fashalli Lirabbika Wanhar, Inna Syani'aka Huwa al-Abtar, ' kemudian beliau berkata, 'Apakah kalian tahu, apakah al-Kautsar itu? ' Kami menjawab, 'Allah dan rasul-Nya lebih tahu.' Beliau bersabda, 'Ia adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabb-ku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang umatku menemuiku pada hari kiamat, wadahnya sebanyak jumlah bintang, lalu seorang hamba dari umatku terhalang darinya, maka aku berkata, 'Wahai Rabb-ku, sesungguhnya dia termasuk umatku', maka Allah berkata, 'Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan setelahmu." (HR. Muslim, no.400).

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

Dari Ibnu Abi Mulaikah mengatakan; Abdullah bin Umar mengatakan, Nabi bersabda, "Telagaku jauhnya sejauh perjalanan sebulan, airnya lebih putih daripada susu, dan baunya lebih wangi daripada minyak misik, dan cangkirnya bagaikan bintang di langit, siapa meminumnya ia tak akan haus selama-lamanya." (HR. Bukhari, no. 6579, Muslim no.2292).

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ الْكَوْثَرُ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ الَّذِي أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ قَالَ أَبُو بِشْرٍ قُلْتُ لِسَعِيدٍ إِنَّ أُنَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّهُ نَهَرٌ فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ سَعِيدٌ النَّهَرُ الَّذِي فِي الْجَنَّةِ مِنْ الْخَيْرِ الَّذِي أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ

Dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhu mengatakan; 'Kautsar adalah sekian banyak kebaikan yang Allah berikan kepadanya (Nabi Muhammad ). Abu Bisyr berkata; saya bertanya kepada Sa'id; 'banyak orang beranggapan bahwa al kautsar adalah nama sungai di surga.' Sa'id menjawab; 'Sungai di surga hanyalah satu diantara sekian banyak kebaikan yang Allah berikan kepadanya.' (HR. Bukhari, no.6578).

Berdasarkan hadits-hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa al-kautsar adalah nama sungai di surga yang diberikan kepada Rasulullah , airnya memanjang ke telaga Rasulullah di padang mahsyar, telaga tersebut dinamakan pula al-kautsar. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata : “Al-Kautsar adalah sungai di dalam surga sebagaimana telah terdahulu dan akan datang (penjelasannya), dan airnya memancar ke telaga. Telaga itu dinamakan pula al-kautsar karena ia merupakan perpanjangan dari sungai tersebut.” (Fathul Bari, 11/567).

Al-Qurthubi berkata : “Ada perbedaan pendapat tentang mizan (timbangan amal) dan haudh (telaga), manakah yang lebih dahulu? Ada yang mengakatan, mizan lebih dulu, dan ada yang mengatakan haudh lebih dulu. Abul Hasan Al-Qabisi berkata : “Yang benar, haudh lebih dulu.” Aku berkata : “Secara makna menuntut kepada hal itu. Karena sesungguhnya manusia keluar dari kuburan mereka dalam keadaan haus sebagaimana telah terdahulu (penjelasannya), maka ia didahulukanlah sebelum mizan dan sirath. Wallahu A’lam”. (At-Tadzkirah, hal.703).

 

Tafsir ayat 2 :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ۝٢

“Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan menyembelihlah (hewan sembelihan)”

Huruf fa dalam ayat tersebut bisa dipahami sebagai sababiyyah, artinya oleh sebab Allah telah memberikan ni’mat yang banyak, maka bersyukurlah engkau dengan melaksanakan shalat dan menyembelih qurban. Dua syariat ini disebutkan secara khusus menunjukkan keistimewaannya. Shalat merupakan ibadah yang paling utama, dan cerminan ketundukan kepada Allah. Ia merupakan ibadah secara vertical/mahdhah kepada Allah. Sedangkan menyembelih qurban, selain memiliki dimensi syiar ketauhidan kepada Allah, juga berdampak maslahat untuk mansuia, yaitu memberi makan daging qurban kepada orang-orang miskin khususnya. Dan ia merupakan bentuk pengorbanan harta. Titik tekan dari kedua syariat ini adalah agar semata dipersembahkan untuk Allah (ikhlas). Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi berkata menjelaskan ayat ini : “Sesungguhnya orang-orang shalat untuk selain Allah dan menyembelih untuk selain Allah. Sungguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka janganlah engkau jadikan shalatmu dan sembelihanmu melainkan untuk Allah”. Sedangkan Ibnul Arabi memaknai shalat di sini sebagai ibadah secara umum. Ia mengatakan : “Menurutku, maksudnya adalah : “beribadahlah kepada Rabbmu, dan sembelihlah untuk-Nya. Jangan jadikan amalmu kecuali bagi yang telah mengkhususkan al-kautsar bagimu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 22/525).

Shalat di sini disebutkan secara mutlak tanpa batasan. Artinya mencakup shalat wajib dan shalat sunnah. Ibnu Katsir berkata : “Sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, diantaranya adalah sungai yang telah terdahulu penjelasan sifatnya, maka ikhlaskanlah untuk Rabbmu shalatmu yang wajib dan yang sunnah dan sembelihanmu. Beribadahlah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sembelihlah dengan nama-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman : “Katakanlah sesungguhnya shalatku, nusukku (sembelihanku), hidupku dan matiku, untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan hal itu aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama berserah diri (kepada Allah)”. QS. Al-An’am : 162-163).

Kaitan dengan konteksnya, jika surat ini turun dalam periode Mekkah, di awal-awal dakwah, maka makna shalatnya mencakup shalat malam atau shalat dua rakaat pada waktu pagi dan petang, menurut sebagian ulama. Atau shalat lima waktu yang wajib setelah peristiwa isra mi’raj. Dan sembelihan qurbannya adalah sembelihan yang memang telah biasa dilakukan sejak sebelum diutus menjadi rasul. Meskipun Rasulullah berada di tengah-tengah orang-orang musyrik yang melaksanakan shalat dan menyembelih qurbannya untuk berhala-berhala, namun beliau melakukannya semata-mata untuk Allah .

Jika turun dalam periode Madinah, tepatnya pada peristiwa Hudaibiyyah tahun 6 H, dimana beliau dihalangi untuk melaksanakan umrah, maka maknanya adalah perintah untuk melaksanakan shalat dan menyembelih hewan-hewan hadyu yang mereka giring. Bisa juga kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji, yang di dalamnya ada nahr (penyembelihan), bahkan hari kesepuluhnya disebut sebagai hari nahr, sebagaimana dalam ayat ini secara jelas menggunakan istilah nahr. Bagi orang yang melaksanakan haji, maka makna shalat itu adalah shalat shubuh di Muzdalifah, lalu dilanjutkan dengan menyembelih hewan hadyu, karena keduanya beriringan. Bagi yang melaksanakan ibadah haji, menurut ijma ulama, tidak ada pelaksanaan shalat idul Adha. Sedangkan bagi yang tidak berhaji, maka makna shalat itu bisa ditujukan kepada shalat idul Adha, lalu dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban (udhiyyah).  

Pengalihan kata ganti “Kami” kepada penyebutan “Tuhanmu” mengandung isyarat berhaknya Allah diibadahi karena sifat rububiyyah-Nya, lebih dari pemberian ni’mat yang banyak itu. Penisbatan kata “Rabb” kepada kata ganti untuk Nabi Muhammad “Tuhanmu”, adalah sebagai bentuk penghormatan kepada beliau, dekatnya Allah dengannya, dan memberikan kasih sayang secara khusus.

Tafsir ayat 3

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ۝٣

“Sesungguhnya pembencimu itu, dialah yang mandul (terhalang dari kebaikan)”

Menyebutkan dhamir ghaib (huwa) setelah isim zhahir (al-abtar) adalah berfungsi sebagai qashr (pengkhususan). Artinya, yang mandul itu hanyalah pembencimu. Ini merupakan sanggahan bagi para pembenci Nabi Muhammad yang mencela beliau dengan menyebut “abtar” (mandul). “Al-abtar” secara bahasa bermakna “binatang yang terpotong bagian tubuhnya, atau terpotong ekornya”. Lalu digunakan untuk menyebut seseorang yang mandul, maksudnya adalah tidak memiliki anak laki-laki yang akan menjadi penerusnya, dan dengan begitu akan terputuslah penyebutan namanya. Perkataan itu diucapkan oleh para pembenci Nabi bahkan sejak dalam periode Mekkah. Para ahli tafsir dari kalangan sahabat dan tabi’in berbeda penafsiran tentang pembenci yang ditujukan oleh yat ini. Ada yang mengatakan dia adalah Al-‘Ash bin Wail, adapula Uqbah bin Abi Mu’aith, Abu Jahal, Ka’ab bin Asyraf, dan sekelompok kaum kafir Quraisy. Yaitu ketika meninggal anak laki-laki Rasulullah . Dimana semua anak laki-laki beliau meninggal dalam keadaan masih kecil, yaitu Qasim, Abdullah dan Ibrahim.

 Surat ini merupakan hiburan dan dorongan kepada beliau agar tetap optimis dalam menghadapi celaan para musuh Allah itu. Bahwa tuduhan “abtar” yang mereka tuduhkan itu justru ada pada mereka. Buktinya Nabi Muhammad justru diberikan banyak ni’mat dan keistimewaan, dan nama beliau tetap harum, selalu disebut-sebut sampai hari kiamat. Justru merekalah yang “abtar”, dalam arti terputus dari seluruh kebaikan, terputus dari rahmat Allah, bahkan akan diliputi dengan kesengsaraan dan siksaan. Dalam ayat ini mengandung apa yang disebut dalam ilmu balaghah sebagai uslubul hakim. Yaitu memberi pesan kepada pendengar dengan sesuatu yang tidak mereka perhatikan, dengan mengalihkan perkataan mereka kepada maksud yang berbeda, sebagai peringatan bahwa maksud tersebut lebih layak untuk diperhatikan. Yaitu bahwa kata “abtar” yang lebih penting untuk diperhatikan adalah maknanya terputus dari kebaikan, bukan sekedar tidak memiliki anak laki-laki yang menjadi penerus.

 Wallahu A'lam.