Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2022

Kerancuan Liberal

 



Oleh : Muhammad Atim

 

Begitulah. Orang-orang liberal (bebas, tanpa -mau- tahu batas), selalu kontradiktif dalam pemikiran dan sikapnya, sehingga selalu melakukan standar ganda.

Mereka bilang tidak boleh meyakini kebenaran satu agama, agama-agama lain pun mengandung kemungkinan benar. Jadi, semua agama itu benar (pluralisme). Satu tuhan, banyak jalan, ibarat jari-jari yang berputar menuju tujuan yang sama, kata Cak Nur. Tidak boleh memaksakan pendapat dan keyakinan, harus toleran, karena kebenaran itu relatif. Tapi, mereka sendiri memaksakan pendapat dan keyakinan liberalnya. Mereka tidak toleran kepada orang untuk meyakini kebenaran agamanya. Jadi bebas untuk mereka saja, yang lain tidak boleh bebas.

Kalau semua agama benar, agama itu ada yang meyakini satu tuhan (Islam), dan ada yang meyakini banyak tuhan. Jika semuanya dianggap benar, inilah kontradiktif paling besar sepanjang sejarah. Akal manusia sehat mana yang bisa menerima, meyakini tuhan itu satu, pada saat yang sama meyakini tuhan itu banyak?

Mereka mulai bicara akhlaq dan adab. Harus sopan dan hormat kepada guru, yang senior dalam keilmuan. Yang sudah bertitel dan telah melakukan banyak riset, kata mereka. Tapi ternyata hal itu mereka terapkan bagi guru-guru mereka saja. Pada saat yang sama mereka sangat tidak beradab kepada Rasulullah saw. Padahal tidak beradab kepada Rasulullah saw bisa menyebabkan kemurtadan. Memanggil dengan panggilan tidak layak, mengumbar tuduhan negatif. Belum lagi kepada para sahabat, lalu ulama-ulama Islam sepanjang sejarah yang hidup mereka, mereka curahkan untuk ilmu dan kemaslahatan umat. Gelar mereka tidak didapatkan hanya dengan secarik kertas, tapi melalui pengakuan dan pengujian ulama-ulama hebat, dan penerimaan umat tingkat dunia.

Mereka begitu luar biasa mengkritik para ulama, tapi pada saat yang sama lidah mereka kelu, otak mereka tumpul, tidak berani mengkritik, mereka hanya mem-beo dan mem-bebek saja pada orang-orang Barat jungjungan mereka itu. Fanatik dan taklid buta pada mereka.

Ilmu Islam itu kuat dan kokoh di atas hujjah. Tapi mereka ga peduli, mereka terus berusaha mencari celah untuk membuat kerancuan dan keraguan. Meski dengan cara yang sangat rapuh, tapi mereka kemas dengan bahasa-bahasa yang seakan ilmiah, agar terlihat mentereng. Agar orang awam tertipu. Islam mereka samakan dengan agama lain yang penuh dengan mitos dan khurafat. Di sini saja mereka sudah gagal memahami sejarah kemunculan agama Islam. Padahal katanya "sejarah" itu selalu mereka jadikan alat utama keilmuan mereka. Islam itu datang justru membawa semangat keilmuan. Wahyu yang turun pertama saja "iqro" (bacalah). Dengan datangnya Islam dan turunnya wahyu, justru menjadi faktor utama perkembangan keilmuan. Baik keilmuan Islam, maupun ilmu-ilmu duniawi yang banyak diinspirasi oleh Al-Qur'an dan Hadits. Dan dalam sejarahnya, ilmu Islam tidak pernah mengalami perseturuan dengan ilmu duniawi atau sains, justru dapat seiring dan sejalan, dan saling mengokohkan. Berbeda dengan agama di barat (Kristen-Yahudi) yang mengalami perseteruan hebat dengan ilmu pengetahuan dan sains, yang menjadi tempat lahirnya gerakan liberal dan sekuler ini.

 

Ibaratnya, mereka ingin memadamkan cahaya matahari dengan tiupan dari mulut-mulut mereka. Sebuah usaha yang sia-sia dan bodoh. Apalagi mereka ingin memadamkan cahaya Allah, yang terang benderang dan berlapis-lapis cahayanya. Mereka tak akan pernah mampu.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". (QS. Ash-Shaf : 8).

Dan konyolnya mereka terus melakukan ini. Membuat kata-kata yang manis, istilah-istilah yang keren. Kerapuhan argumen dan kecacatan logika mereka tutupi dengan istilah-istilah tipuan ini, yang membuat orang awam atau yang malas belajar ilmu Islam tertipu. Dan ternyata hal seperti ini telah dilakukan sejak dulu, usaha yang kompak antara syetan manusia dan jin.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (QS. Al-An'am : 112).

Mereka terus berusaha mencari celah kekurangan dan kesalahan dari ilmu-ilmu Islam yang telah kokoh dibangun di atas hujjah ini, dan kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Satu penemuan mereka, mereka apresiasi luar biasa. Dan tentu membuat orang-orang kafir jungjungan mereka itu senang. Dan dari sanalah mereka "cari makan". Mereka terus utak-atik Al-Qur'an dan Hadits. Mereka mencari keragu-raguan untuk diri mereka sendiri, tapi tidak untuk orang beriman dan orang yang berakal tajam. Kesalahpahaman mereka terhadap ayat atau hadits, lalu mereka klaim sebagai kesalahan, sebabnya tiada lain karena mereka "kurang tadabur" terhadap Al-Qur'an. Mereka memahaminya dengan akal pendek dan tumpul, tidak dengan akal yang tajam.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

"Maka apakah mereka tidak mentadaburi (menghayati secara mendalam) Al Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa : 82).

Karena mereka tidak tadabur dalam melakukan penelitian terhadap Al-Qur'an, maka mereka menemukan kontradiktif yang banyak pada pemahaman mereka, bukan pada Al-Qur'annya.

Bahkan, tantangan Allah, jika mereka meragukan kebenaran Al-Qur'an dan merasa diri benar, untuk membuat satu surat saja yang semisal dengan Al-Qur'an, hingga hari ini tidak ada yang mampu melakukannya! Bahkan selamanya tidak akan pernah mampu!

Dari tingkah laku yang mereka tampakkan, mereka sudah masuk kategori munafik yang disebutkan Al-Qur'an. Yaitu keragu-raguan yang menjadi penyakit dalam hati mereka. Mengklaim diri pembuat perbaikan dan pembaharuan, padahal pembuat kerusakan. Menyebut orang beriman bodoh dan merasa diri pintar, padahal hakikatnya merekalah yang bodoh. Bermuka dua, berpura-pura sebagai orang beriman, tapi bersekongkol dengan orang-orang kafir dalam memusuhi Islam. Dengan segala ucapan dan tingkah laku mereka, justru menggugurkan klaim keimanan mereka. Dst...

Yang mudah terpengaruh oleh tipuan mereka hanyalah orang yang malas belajar ilmu Islam. Yang tidak bersungguh-sungguh dalam menikmati suguhan keilmuan Islam yang memuaskan akal dan menyegarkan dahaga rohani. Yang tidak ada rasa bangga terhadap turats (warisan ilmu) para ulama yang megah dan kokoh itu. Tiba-tiba tersilaukan oleh kata-kata manis mereka, lalu membeo dan membebek pada mereka.

Bagi orang yang kuat keimanannya dan tajam akalnya, tentu tidak akan terpengaruh sedikitpun oleh tipuan murahan mereka. Tiada yang mereka lakukan selain mengikuti arahan Allah sebagaimana dalam ayat di atas :

فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

"Tinggalkanlah mereka dan kedustaan mereka"

Semoga Allah SWT menjaga kita dari syubhat paham liberal.

Senin, 19 April 2021

Pelajarilah Perbedaan Pendapat Agar Hatimu Lapang

 



Dalam Islam, tidak semua petunjuk ajarannya bersifat qath'i (tegas), tetapi ada juga yang bersifat zhan'i (menimbulkan dugaan dan perbedaan pemahaman). Yang zhanni inilah yang menjadi wilayah ijtihad para ulama. Maka lahirlah perbedaan pendapat dan madzhab. Kita akan menemukan madzhab-madzhab dalam berbagai bidang disiplin ilmu Islam. Baik dalam ilmu Aqidah, Akhlaq, Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits, dsb. Meskipun tentu, dalam ilmu-ilmu tersebut ada kaidah dasarnya yang disepakati.

Perbedaan pendapat seperti ini adalah Sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Karena Allah menciptakan akal manusia itu berbeda-beda, juga memberikan rezeki ilmu dan pemahaman yang berbeda. Di zaman Nabi saw pun, perbedaan pendapat dalam memahami dalil telah terjadi di kalangan sahabat. Misalnya kasus yang terkenal adalah perintah Nabi untuk berangkat mengepung Yahudi Bani Quraizhah,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Dari Ibnu 'Umar radhiallahu'anhuma, ia berkata; Nabi bersabda ketika perang al-Ahzab, "Janganlah seseorang melaksanakan shalat Asar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Setelah berangkat, sebagian dari pasukan melaksanakan shalat Asar di perjalanan sementara sebagian yang lain berkata, "Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai di perkampungan itu." Sebagian yang lain beralasan, "Justru kita harus shalat, karena maksud beliau bukan seperti itu." Setelah kejadian ini diberitahukan kepada Nabi , beliau tidak menyalahkan satu pihakpun." (HR. Bukhari, no.4119).

Perhatikanlah, terjadi perbedaan pendapat dari para sahabat dalam memahami sabda Nabi , “Janganlah seseorang melaksanakan shalat Ashar kecuali di perkambungan Bani Quraizhah”. Satu kelompok memahami zahirnya yaitu shalat harus dilaksanakan di Bani Qaraizhah meskipun di perjalanan sudah masuk waktu Ashar, bahkan tiba di Bani Quraizhah malam hari. Sedangkan kelompok lain memahami inti maksud dari sabda Nabi tersebut, yaitu agar bersegera dalam perjalanan, hingga waktu Ashar telah tiba di tujuan, sehingga ketika di perjalanan telah masuk waktu Ashar, mereka melaksanakan shalat sesuai waktunya. Rasulullah tidak menyalahkan salah satu dari dua kelompok ini, menunjukkan beliau menyetujui adanya perbedaan pendapat.

Mempelajari perbedaan pendapat dalam ilmu-ilmu Islam sangat penting di zaman ini. Yaitu ketika satu kelompok mudah menyesatkan, membid’ahkan, mengingkari dengan keras dan kasar bahkan mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pemahaman. Padahal perbedaan tersebut masih dalam kategori masalah khilafiyyah ijtihadiyyah, yang harusnya dikedepankan sikap toleransi. Hal ini tiada lain disebabkan sikap fanatik buta terhadap kelompoknya, hasil dari doktrin pemahaman kelompoknya yang menjadikan sesuatu yang zhanni menjadi qath’i. Padahal dalam kaidah fiqih juga disebutkan, La inkaro fi al-masail al-khilafiyyah (tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah yang mengandung perbedaan pendapat), imam As-Suyuthi dalam kitab Qawaid Fiqihnya, Al-Asybah wan Nazhair, pada kaidah yang ke-35 menyebutkan dengan redaksi,

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Tidak boleh diingkari yang menjadi perbedaan pendapat, hanyalah yang diingkari itu yang disepakati.” (As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazhair, hal.158).

Mempelajari perbedaan pendapat akan melapangkan dada untuk dapat bertoleransi kepada saudara sesama muslim yang berbeda pilihan ijtihad, melaksanakan kewajiban menjaga persaudaraan dan menghentikan perpecahan yang terus berlarut.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama itu tiada lain adalah cabang-cabang dan ranting-ranting dari pohon syariat yang besar, sebagaimana dikatakan oleh Abdul Wahab Asy-Sya’roni rahimahullah,

فَإِنَّ الشَّرِيْعَةَ كَالشَّجَرَةِ الْعَظِيْمَةِ الْمُنْتَشِرَةِ، وَأَقْوَالَ عُلَمَائِهَا كَالْفُرُوْعِ وَالْأَغْصَانِ

“Sesungguhnya syariat itu seperti pohon yang besar dan menyebar, dan pendapat para ulamanya seperti cabang-cabang dan ranting-ranting.” (Abdul Wahab Asy-Sya’roni, Al-Mizan, hal.  70).

Perbedaan ini juga di sisi lain menjadi kemudahan dan rahmat bagi kaum muslimin dalam menjalankan syari’at. Seperti perkataan khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah,

مَا سَرَّنِي أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدِ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَخْتَلِفُوْا، لِأَنَّهُمْ لَوْ لَمْ يَخْتَلِفُوْا لَمْ تَكُنْ رُخْصَةٌ

“Tidaklah membuatku senang bahwa para sahabat Nabi Muhammad itu tidak berbeda pendapat, karena jika mereka tidak berbeda pendapat, maka tidak ada rukhsah (keringanan).” (Al-‘Ajluni, Kasyful Khofa, 1/79).

Begitu pula imam Malik rahimahullah ketika khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah memintanya agar menyebarkan kitab-kitabnya dan mengarahkan umat kepada pendapatnya, ia menjawab :

يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، إِنَّ اخْتِلَافَ الْعُلَمَاءِ رَحْمَةٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ، كُلٌّ يتَّبِعُ مَا صَحَّ عَنْدَهُ، وَكُلٌّ عَلَى هُدًى، وَكُلٌّ يُرِيْدُ اللهُ تَعَالَى

“Wahai Amirul Mu’minin! Sesungguhnya perbedaan para ulama itu adalah rahmat Allah ta’ala atas umat ini. Setiap orang mengikuti apa yang benar menurutnya, semuanya berada di atas petunjuk, dan semuanya dikehendaki oleh Allah ta’ala.”  (Al-‘Ajluni, Kasyful Khofa, 1/80).

Abu Abdullah Al-Maqarri berkata :

تَعَلَّمَ الْخِلَافَ يَتَّسِعْ صَدْرُكَ

“Pelajarilah perbedaan pendapat, niscaya hatimu menjadi lapang.”


Muhammad Atim

Minggu, 18 April 2021

Tiga Madzhab Aqidah Ahlus Sunnah

 


Sepengetahuan saya, tiga madzhab dalam aqidah; Asy'ariyyah, Maturidiyyah dan Atsariyyah (Salafi/Wahabi) adalah sama-sama Ahlus Sunnah, seperti yang dikatakan oleh Syekh Muhammad As-Safarini Al-Atsari Al-Hanbali :

أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ : الأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ، وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُوْرٍ الْمَاتُرِيْدِي، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيْرَةٌ جِدًّا.

"Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu ada tiga kelompok : (1). Al-Atsariyah, imam mereka adalah Ahmad bin Hanbal ra, (2). Al-'Asy'ariyyah, imam mereka adalah Abul Hasan Al-'Asy'ari rh, dan (3). Al-Maturidiyyah, imam mereka adalah Abu Manshur Al-Maturidi rh. Adapun kelompok-kelompok kesesatan, maka banyak sekali." (Syarah Aqidah As-Safarini, Jilid 1, hal. 73)

Secara pokok akidah mereka sama. Khususnya berkaitan dengan sifat-sifat Allah, yaitu sama-sama dalam tanzih, mensucikan dan menafikan kesamaan dengan makhluk, karena ayatnya qath'i

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas : 4).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada yang semisal dengan-Nya sesuatu pun, dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 11).

Begitu pula dalam istbat, yaitu menetapkan semua sifat-sifat Allah yang datang dari Allah dan rasul-Nya, dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih.

Sepakat untuk tidak tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tidak ta'thil  (menolak dan menafikan sifat Allah) dan tidak takyif (menanyakan dan memikirkan "bagaimana").

Hanya, dalam menyikapi ayat-ayat sifat yang "seakan menyamai makhluk" ada perbedaan ijtihad sehingga ini adalah wilayah ijtihadiyyah (furu aqidah).

Asy'ariyyah dan Maturidiyyah melebih-lebihkan (mubalaghah) dalam sisi tanzih, sehingga memilih metode ta'wil karena dikhawatirkan terjerumus kepada tasybih, sehingga sering dituduh ta'thil.

Sedangkan Atsariyyah (salafi/wahabi) melebih-lebihkan (mubalaghah) dalam sisi itsbat, menetapkan semua sifat yang ada dalam dalil, dan memilih menetapkan makna zhahir, karena menurut mereka metode ta'wil bisa berakibat kepada ta'thil, maka mereka menetapkan makna zhahir yang yaliqu bijalalihi (yang sesuai dengan keagungan-Nya), sehingga sering dituduh tasybih dan tajsim.

Jadi, yang diperselisihkan sebetulnya dalam wilayah ijtihadiyyah, dalam wilayah furu aqidah.

Wallahu A'lam.

Muhammad Atim

Selasa, 06 April 2021

Kaya & Miskin

 

Kaya dan miskin adalah dua kondisi yang ada di luar kemampuan manusia. Maka tidak bisa dikatakan, kamu jangan miskin, kamu harus kaya! Sebagai orang beriman, tentu kita harus meyakini bahwa keduanya terjadi tiada lain melainkan atas kehendak Allah. Ini merupakan bagian dari iman kepada takdir.

اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا

Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Isra : 30).

Rezeki yang Allah berikan di dunia tentu tidak turun dari langit begitu saja, tetapi diperoleh melalui usaha. Ada sunnatullah sebab akibat. Untuk itu dalam banyak ayat dan hadits ada dorongan untuk berusaha, berjalan dan bertebaran di muka bumi untuk mengais rezeki, serta adanya peringatan dari tercelanya berpangku tangan bermalas-malasan tanpa mau bekerja, terlebih meminta-minta.

Namun, yang menjadi wilayah tanggung jawab manusia itu adalah usahanya, bukan hasilnya. Kaya dan miskin itu hasil. Dan dia mutlak pemberian Allah. Jadi, tidak serta merta kaya itu terpuji dan miskin itu tercela. Kalaulah ukurannya seperti itu, bisakah diterapkan kepada para Nabi dan orang-orang shaleh yang diuji dengan kemiskinan, bisakah mereka disebut sebagai orang-orang yang tercela karena miskin? Bahkan Nabi kita diuji dengan kemiskinan, pernah dua bulan berturut-turut tidak ada nyala api di rumahnya, hanya mengkonsumsi air dan kurma saja, pernah dilanda kelaparan yang hebat. Bahkan Umar menangis ketika melihat guratan-guratan di punggung beliau karena tikar kasar yang beliau tiduri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) mereka berada dalam (kekayaan) yang ada pada mereka, sedangkan engkau ini Rasulullah? Lalu beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha, biarlah bagian mereka di dunia sedangkan bagian kita di akhirat?! (Muttafaq ‘Alaih).

Kaya dan miskin adalah ujian. Terpuji ataupun tercelanya bukanlah terletak pada keduanya, tetapi pada sikap terhadap keduanya. Orang kaya bisa menjadi mulia, seperti halnya juga orang miskin bisa mulia. Makanya di dalam Islam ada ilmunya bagaimana menjadikan kekayaan itu menjadi berlimpah keberkahan, yaitu dengan sikap bersyukur dan menginfakkan harta kekayaannya di jalan Allah. Begitu juga orang miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi mulia, yaitu dengan sikap bersabar, bahkan bisa jadi kesempatan untuk beribadah dan beramal shalehnya lebih banyak karena tidak tersibukkan oleh kekayaan, bahkan bisa masuk surga lebih dulu karena penghisaban hartanya sedikit.

Sebaliknya, baik orang kaya maupun orang miskin, sama-sama bisa menjadi tercela ketika mereka memilih sikap yang salah. Orang kaya menjadi tercela ketika ia sombong dengan kekayaannya, senang memamerkan kekayaan dan tidak pandai bersyukur. Dan orang miskin menjadi tercela ketika ia tidak bersabar, menyalahkan dan mencela takdir, bahkan menjadikan kefakirannya sebagai alasan untuk keingkaran dan kekafiran.

Hati-hati bersikap terhadap kekayaan. Jangan merasa bahwa mendapat kekayaan adalah sebagai hasil usaha jerih payah dan kepandaian ilmu sendiri, lalu berbangga diri dan memamerkannya. Apalagi sambil merendahkan orang-orang miskin dengan kemiskinannya, itu akan sangat membuat hati mereka miris. Hati-hati dalam berkata-kata, meskipun itu untuk tujuan memotivasi. Karena kata-kata adalah cerminan mainset dan apa yang ada di dalam hati. Motivasi mesti dibangun dengan mainset dan keyakinan yang benar. Allah telah memberi pelajaran kepada kita tentang sikap terhadap kekayaan. Yaitu dengan teladan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dan contoh buruk Qarun. Justeru dengan mengabadikan perkataan mereka. Silahkan ukur sikap kita terhadap kekayaan, apakah meneladani perkataan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam :

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)” (QS. An-Naml : 40).

Ataukah mencontoh perkataan buruk Qarun :

اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهُ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ

“Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”  (QS. Al-Qashash : 78).

Juga, karena kaya dan miskin itu pemberian Allah, tidak perlu menjadikan tujuan apalagi ambisi dalam berusaha itu untuk menjadi kaya. Karena jika ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan, malah akan menjadi kecewa. Akhirnya bersikap tidak ridha terhadap takdir Allah. Cukuplah tujuan dalam berusaha itu untuk mencari ridha Allah dalam rangka menjalani sebab meraih rezeki Allah, dan tentu usahanya dilakukan dengan semaksimal mungkin, maka berapapun hasilnya, hati akan dipenuhi dengan keridhoan.

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.

(Muhammad Atim)